PRAGUE
























Best Part


I just wanna see how beautiful you are
You know that I see it

I know you're a star

Where you go I follow
No matter how far
If life is a movie
Oh you're the best part



-Daniel Caesar-













kematian

Kematian adalah suatu keniscayaan dan sekaligus ketidakpastian yang terjadi pada semua makhluk hidup. Niscaya, karena pada akhirnya akan terjadi pada anda, namun tidak pasti, karena anda tidak akan pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana hal itu akan terjadi.

Sebagai orang percaya (yang menyebut dirinya seorang kristen, seseorang yang mengikuti ajaran Kristus meskipun kadang gagal dan jatuh), saya percaya pada konsep kehidupan setelah kematian. Fakta bahwa saya percaya hal tersebut memberi saya sedikit penghiburan setiap kali saya harus menghadapi kematian seseorang atau sesuatu (kadang kala anjing mati juga) yang saya cintai. Jadi, bahkan setelah hati saya hancur berkeping-keping setelah kematian Opung, saya selalu merasa tenang dengan berpikir bahwa sekarang dia berada di tempat yang lebih baik; lebih bahagia daripada sebelumnya. Hal yang sama terbersit ketika memikirkan mama, opung doli. Penghiburan, itulah yang saya dapatkan.

Orang atheis mungkin skeptis dan menganggap konsep kehidupan setelah kematian sebagai omong kosong belaka. Yang baik mungkin kasihan sama saya, sementara yang rada nggak baik mungkin menganggap saya tolol. Atau keduanya mungkin menganggap saya delusional. Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: apakah ada pilihan lain yang saya miliki? Karena bagi saya ini bukan hanya masalah iman semata (meski tentunya iman memainkan peranan penting di sini) tapi juga suatu cara yang bijak untuk memilih cara menjalani hidup saya. Saya lebih suka menjalani hidup dengan mengetahui bahwa saya sedang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih baik (dan abadi) di masa depan, daripada mengatakan kepada diri saya untuk hidup sepenuhnya ', melakukan apapun yang saya inginkan (karena anda tahu, YOLO!*), karena di pada akhirnya saya akan mati juga. Bahkan saya pikir jika kehidupan setelah kematian memang tidak ada, saya tidak merasa rugi pernah mempercayainya. Kenapa memangnya jika saya hidup dengan mematuhi peraturan, mencoba melakukan apa yang tuhan atau Tuhan 'ajarkan' untuk saya lakukan dan mencoba untuk tidak melakukan apa yang mereka atau Mereka atau Dia 'larang'. Jika disebut delusional oleh orang-orang tertentu adalah satu-satunya harga yang harus saya bayar, saya rasa itu adalah hal yang kecil. Terutama dengan hadiah yang sudah saya terima sekarang, dengan percaya bahwa orang yang saya cintai berada di tempat lain selain terkubur di bawah tanah dengan cacing-cacing perlahan memakan tubuh mereka.

Saya juga mendapat penghiburan dengan melihat kehadiran mereka di dalam diri orang lain. Terkadang, saya melihat mama di dalam diri saya, saat saya melihat ke cermin. Pada lain kesempatan di dalam adik saya. Bukan hanya karena kemiripan kami dengan mama, tapi karena saya tahu beberapa hal dalam diri mama masih ada tertinggal dan berjejak di dalam diri kami. Atau juga setiap kali saya melakukan hal random yang biasanya dilakukan Opung, saya tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa dia masih hidup melalui saya. Jadi pertanyaannya adalah; apakah mereka benar-benar pergi? Jawaban saya: I don't think so;  terlepas dari kenyataan apakah kehidupan setelah kematian memang ada, atau tidak.



-untuk Opung dan Mama-



*YOLO: you only live once (hidup cuma sekali)

death

Death is the most certain and uncertain thing that will happen to all living creatures. Certain, because it will happen to you eventually, yet uncertain, since you'll never know when, where, and how it will take place.

As a believer (who called herself a christian; someone who follows Christ's teachings though sometimes failed and tumbled down), I believe in the concept of life after death. The fact that I believe in such thing gave me a bit consolation every time I had to deal with the death of someone or something (yeah cause sometimes dogs die too) I love. So, even after my heart broke into pieces after my grandma's death, I always found comfort by thinking that she's in a better place now; happier than ever was. It went the same every time I was thinking about my mom, my grandpa. Consolation, that's what I got.

An atheist might be sceptical and find such concept as a non sense. The nice ones might pity me, while the less nice ones might think I was a fool. Or both might find me delusional. But then I ask myself: what other choice do I have? For me this isn't merely a matter of faith (although it surely plays the most significant role) but also a wiser way to choose how to live my life. I'd rather live my life, knowing that I am in the middle of preparing myself for a better (and eternal) life in the future, than telling myself to live to the 'fullest', do whatever I want (since you know, YOLO!*), because at the end of the day I will die anyway. Even if the life after death never existed, I don't see any disadvantage of believing if it does. So what if I live by obeying the rules, trying to do what god or God 'tell' me to do and trying not to do what they or They or He or She 'forbid' me. If being called delusional by certain people is the only price I should pay, I think I can manage it. Especially with the prize I already accepted, by believing that my loved ones are somewhere other than buried under the ground with worms and stuffs slowly consuming their bodies.

I also find some consolation by seeing their presence in someone else's. Sometimes, I see my mother in myself, when I look in the mirror. Some other times in my sister. Not only because of our resemblances or stuffs, but because I know that some parts of her still exist in us. Also every time I do some random things that my Grandma usually did, I can't ignore but see how she still lives through me. So the question is; are they really gone? My answer is: I don't think they are, regardless of the fact whether life after death does exist, or not.







-in loving memory of my beloved Grandma and Mom-



*YOLO: you only live once
"Kaulah bentuk terindah dari baiknya Tuhan padaku."




-Kata si Virgoun-

16.01.18

Hey ho here she goes 
either a little too high or a little too low
got no self esteem and vertigo
she thinks she's made of candy

Hey ho here she goes
either a little to loud or a little too close
got a hurricane at back of her throat
she thinks she's made of candy

-Candy, Robbie Williams-

Lagu "Candy" Robbie Williams pertama kali rilis di tahun 2012, tapi waktu gw pertama sampe di Jerman pada Januari 2013 lagu itu lagi beken-bekennya dan ada di tangga teratas chart musik. Radio muter lagu ini berkali-kali, sampe gw rada bosen juga karena pengen denger lagu lain juga. Lagu ini menurut gue bukan tipikal lagu Robbie Williams atau Take That banget, iramanya ringan dan girang dan nggak seperti lagunya yang lain (misalnya "Angels") yang maknanya bisa langsung diserap sambil mendengar kata demi kata dalam liriknya, lagu Robbie Williams ini seperti sulit untuk dipahami maknanya. Beberapa fans malah berkomentar sembarangan dengan mengatakan bahwa lagu ini meaningless, yang kemudian dibantah langsung oleh Mr Williams himself. 

Sekalipun gw suka bosen sama radio yang muter lagu ini terus menerus, gw punya lagu ini di hp yang sering gw dengerin dalam perjalanan naik subway. Lagu ini cukup menemani masa-masa galau sebelum keterima studkol apalagi uni. Awalnya gw hanya menebak-nebak lewat liriknya bahwa lagu ini menceritakan tentang seorang perempuan yang super fancy and it seems like she has everything, and she kind of knows it, but also she has a low self esteem at the same time. She sees herself as a candy, but at the same time also as a shit. In his attempt to 'decode' the lyrics (Williams co-wrote this song together with his Take That buddy Gary Barlow) Robbie williams memberi penjelasan yang hampir mirip dengan yang gw pikirkan. He stated: "The song 'Candy' is about a girl named Candice, she's kinda real kinda not. Just an observation on girls I've seen or been around in LA. In fact seen or been around the world" also "It's a summer song, very much in a similar vein to 'Rock DJ', about a girl who thinks she's great. And she might be, but she's a bit nefarious with her ways." 

Dan kemudian gw pun menyadari bahwa gw mendengar lagu ini dengan cara berbeda dari 5 tahun lalu. Kalau dulu gw melihat Candice as any random girl, sekarang gw melihat bahwa I might have been Candice. There are times when I think that I have so much to offer, but at the same time I am not sure if everyone know that I'm that good. Dan juga setiap kali gw mendengar how every words describe her as some kind bipolar-ish, I can't help but think of myself. Lucu, bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, orang bisa melihat sebuah lagu dari perspektif berbeda. Dan lucunya juga, gw nggak tahu apa poin dari tulisan ini. Sekian.



BadGo, 16 Jan 2018, 01:26

Tes Sensitivitas; Menguji Seberapa Sensitifkah Anda

It's been a looong while since the last time I wrote something on my blog. Biasalah mandek ide, sampe akhirnya tiba-tiba nggak sengaja kepikiran bikin tes ini karena perkataan seorang teman. Ini tes sama sekali nggak scientifically proven, originally dibuat oleh penulis abal-abal yaitu diri gue sendiri. So don't take it too seriously :D

There are 7 questions with multiple choice answers. The sum scores will show you how sensitive you could be as a person:

1. Seberapa sering lo dicurhatin sama teman?
A. Hampir setiap saat kalo ketemu teman yang ada masalah pasti dicurhatin
B. Jarang karena gue kurang pinter kasih solusi
C. Kayaknya temen-temen gue nggak pernah punya masalah dan hidupnya baik-baik aja

2. Waktu lagi ngobrol berdua sama teman tiba-tiba wajahnya menjauh dari lo secara perlahan namun pasti. Yang ada di pikiran lo adalah:
A. Mungkin dia mau menatap wajah cakep gue dari posisi yang lebih sempurna
B. Mungkin mulut gue bau?
C. Mungkin gue ngomong terlalu kenceng dan dia bisa budek kalo duduk lama-lama deket gue

3. Kalo seseorang bilang dia lagi bete karena ujiannya dapet C, dan kemudian setelah itu kelakuannya jadi moody dan kayak nenek lampir. Yang lo lakuin adalah:
A. Nanya dia maunya apa tapi dengan sabar dan nggak pakai marah-marah
B. Ninggalin dia sampe dia tenang dulu dan arwah nenek lampirnya keluar
C. Beliin dia cokelat dan ngajak dia jalan ke disneyland (if it's possible :D)

4. Apa yang ada di pikiran lo waktu lihat anak kecil ngemis di jalan?
A. Orang tuanya di mana? Kasihan banget masih sekecil ini mesti cari uang sendiri
B. Dari kecil emang mesti ngerasain hidup susah biar gedenya bisa tough
C. Ngebayangin susahnya hidup anak itu dan berimajinasi seandainya lo bisa ngadopsi anak tersebut dan tanpa sadar air mata lo menetes membasahi pipi

5. Orang terpenting dalam hidup lo:
A. No doubt: orang tua
B. Pacar
C. Teman gaul haha hihi bareng

6. Waktu lagi berdua sama teman dan dia cerita sesuatu yang penting sama lo, sedangkan lo malah asik main sama smartphone baru. Tiba-tiba dia terdiam sejenak dan akhirnya lo notice dia nggak lanjut ngomong. Yang ada di pikiran lo?
A. Dia lagi mikirin apa lagi yang mau dia ceritain
B. Dia agak tersinggung karena lo nggak serius dengerin cerita dia
C. Dia udah capek nyerocos dari tadi

7. Saat teman meledek bagian tubuh atau sifat lo yang sebenarnya bikin lo rada insecure, tanggapan lo?
A. Ketawa aja
B. Ketawa dan bales ngejek teman tersebut
C. Ngomong ke si teman kalo lo nggak keberatan dibecandain asal bukan soal hal-hal yang menyenggol insecurity lo

8. Saat lo nggak punya makanan apa-apa di rumah selain roti yang udah kadaluarsa tapi belum jamuran dan karena laper lo terpaksa makan itu, maka (pertanyaan bonus):
A. Nggak sampe setengah jam lo bakal menci-menci (diare)
B. Nggak ada masalah sama sekali pada tubuh lo
C. Nggak ada masalah sama sekali dan besok-besoknya lo jadi ketagihan makan roti kadaluarsa



The Scores

1. A: 10%    B: 5%    C: 0%
2. A: 0%.     B: 10%  C: 15%
3. A: 10%    B: 5%    C: 20%
4. A: 10%    B: 0%    C: 15%
5. A: 15%    B: 5%    C:  5%
6. A: 5%      B: 10%  C:  0%
7. A: 5 %     B: 0%    C: 15%
8. Kalo jawabannya A berarti perut lo emang sensitif

Score 0%-40%: Lo orang tercuek di galaksi bimasakti
Lo salah satu manusia tercuek yang pernah berjalan di atas bumi ini. Positifnya, lo bukan termasuk orang yang gampang tersinggung. Orang kayak lo enak dijadikan teman, but somehow dalam hal tertentu orang suka ngalamin kesulitan di saat ketidakpekaan lo lagi kumat.

Score 45%-65%: Level sensitivitas lo menengah
Ibarat kata kalo lo adalah keripik yang pake level-levelan, maka lo adalah keripik yang pedesnya itu masih bisa ditolerir sama umat manusia.

Score 70%-100%: Sensitif akut
Lo punya sensitivitas yang tak terbantahkan. Lo bisa menebak apa yang ada dipikiran orang, walaupun orang tersebut belum ngomong apa-apa alias hanya lewat gesture atau tanda. Tapi jeleknya, tebakan lo bisa meleset jauh. Itu jeleknya orang yang kelewat sensitif. Hidupnya suka gloomy dan punya prasangka macam-macam, padahal kenyataannya nggak seburuk apa yang dia bayangkan. Tipikal ini juga sering disebut drama queen/ king. Jelek sih, tapi bagusnya tipikal orang kayak begini sangat penyayang dan sangat langka di era digital ini, oleh karena itu mereka wajib dilestarikan (I can proudly say that I am one of these people :D)


"When our sensitivity to feel pain decreases, so does our sensitivity to feel joy with it."
Johnson Bandi