Showing posts with label Contemplation. Show all posts

Blessing in Disguise?

Berkat itu adalah bayi yang lahir di tengah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan buah hati,

atau ketika si tukang becak dengan wajah haru dan hati penuh dengan rasa bangga yang membuncah, mengantarkan putri kesayangannya ke acara wisuda.

Berkat ada di tengah keluarga yang tidur nyenyak di rumah yang nyaman, ketika sang ayah memiliki pekerjaan stabil dan sang ibu melakukan segala yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya;
anak-anak yang patuh, sehat, berprestasi, bahagia.

Lalu,

apakah masih berkat namanya ketika sepasang suami istri muda harus menguburkan jasad bayi lucu mereka yang masih berumur beberapa hari,

 saat si TKW yang berjuang hidup dan mati di negeri orang untuk membiayai hidup putra satu-satunya malah mendapati putranya menjadi pecandu narkoba,

atau saat mendapati keluarga menjadi tidak lagi harmonis dan masalah finansial menjadi bahan pertengkaran sehari-hari di dalam rumah tangga?


It's easy to count your blessings when it is obvious. But how about all the blessings in disguise?

Corona: Sebuah Catatan Singkat

Hallo, blog.

Sejujurnya gue sedang tidak bernafsu untuk nulis tentang apapun. Ketidakbernafsuan ini akan tercermin jelas dalam produksi tulisan yang berantakan berikut ini. Tulisan ini adalah bentuk keresahan yang berkecamuk dalam diri gue di dua minggu terakhir ini. I promise I will make it as briefly as possible, as told by the title.

Sejak awal mula outbreak CoVID-19, state of mind gue udah berubah-ubah mulai dari denial, sok cool, mendadak panik, mencoba menerima keadaan, hingga akhirnya benar-benar pasrah dan berserah. Di awal gue bahkan mencoba untuk tidak mencari tahu tentang keadaan apapun yang terjadi di tempat gue tinggal, ataupun di belahan lain dunia, yang berkaitan dengan virus corona. Gue pikir, out of sight, out of mind, right? Gue mencoba yakinkan diri bahwa ini semua akan segera mereda, dan hidup akan berjalan kembali dengan normal.

First outbreak in Wuhan was at the end of 2019, and we are almost at the end of the first quarter of 2020. The curve has not flattened, yet.

No one can really tell how and when this is gonna end. Di tengah segala ketidakpastian ini gue sempat memanjatkan doa yang begitu egois: gue pengen diri gue dan keluarga, temen serta orang-orang lain yang gue kasihi diluputkan dari bahaya si virus ini. Gue pikir, instead of kita, kenapa nggak orang-orang jahat aja yang kena, ya Tuhan? Kayak Harvey Weinstein si sexual predator itu, yang kabarnya positive corona di dalam penjara. It makes more sense, right? Isn't Your wrath revealed against ungodliness and unrighteousness of men?

Sampe kemudian akhirnya tadi gue baca thread di twitter adek gue, yang cerita bahwa mama dari teman baiknya jadi salah satu korban yang akhirnya meninggal dunia karena corona virus. Almarhumah adalah seorang dokter; direktur dari salah satu RS di Bandung. Dari cerita adek gue, beliau merupakan orang yang sangat baik dan berjiwa sosial. Waktu baca itu gue seketika tersadar, siapalah gue merasa berhak berdoa kayak tadi? Dari segitu banyaknya korban yang sudah berjatuhan, tidak sedikit di antaranya merupakan jiwa-jiwa selfless yang di saat akhir hidupnya, sekalipun dengan kesadaran penuh bahwa nyawa mereka sudah di ujung tanduk, tetap bertaruh mencoba menyelamatkan jiwa dari para pasien mereka. Sedangkan gue dengan pongahnya merasa kayak pahlawan cuma karena gue masih kerja di supermarket sampe sekarang. I am so embarrassed when I remember how I was getting a big head every time people thanked me for my service, as if they owed me big time, when in reality, the only reason I'm still going to work is the paycheck. How could I ever think that my life is much worthier than those doctors'?

Having that thought doesn't make me feel any better. It doesn't lessen my worry, at all. Gue takut menghadapi hari esok, karena gue nggak tahu apakah besok masih ada. Memang kata alkitab, kekhawatiran nggak akan menambah sehasta pada jalan hidupmu; tapi pada kenyataannya, kekhawatiran akan tetap ada selama manusia masih bernafas. Mungkin buat sebagian orang, statement gue menunjukkan kurangnya iman. Mungkin mereka benar. Iman gue mungkin belum begitu mumpuni, sehingga gue menjadi sangat marah ketika mendengar masih ada orang yang berpikiran untuk mengadakan birthday party di tengah situasi yang begitu genting ini. Atau ketika masih ada orang yang 'nakal' dan mengabaikan anjuran pemerintah untuk melakukan physical distancing. Kalau perduli kesehatan diri sendiri dan orang lain dianggap nggak beriman, biarlah gue dicap nggak beriman sekalian.

Terakhir, ada satu hal yang gue petik dari semua kejadian ini. Selain yang tadi soal gue berdoanya masih suka egois, gue juga terlalu fixated sama masa depan dan masa lalu. Sejak kecil gue udah membiasakan diri merancang masa depan supaya begini dan begitu. Faktanya, banyak rancangan gue yang nggak kejadian. Acapkali apa yang gue inginkan nggak sama dengan apa yang gue butuhkan. Dan gue suka tertawa kalau ingat betapa gue pernah menginginkan sesuatu 5 tahun yang lalu, yang saat ini gue tahu hal tersebut sama sekali nggak baik buat diri gue. Juga soal masa lalu. Seringkali gue berkutat dengan segala macam "What Ifs" yang membuat gue lupa untuk menikmati momen di detik ini. Gue mencoba mengubah sesuatu yang sudah tidak bisa diubah, atau yang memang semestinya tidak berubah. Dunia pada saat ini menyadarkan gue satu hal: I live neither in the future nor in the past, and I can't spend the time I have being fixated on them. Nggak ada garansi gue besok masih bangun. Nggak ada garansi juga akan ada tulisan berikutnya dari gue di blog ini. Yang bisa gue lakuin saat ini adalah memanjatkan syukur di tiap hela nafas, dan berharap, dunia di esok hari akan lebih indah, bukan cuma buat gue, tapi buat semua makhluk.





Duisburg, 270320

Upaya Sia Sia Mendefinisikan Cinta

Kemarin saya berbincang dengan seorang teman yang usianya terpaut lumayan jauh di atas saya. Konon katanya, semakin banyak umur seseorang, semakin banyak pula pengalamannya. Jadi saya bertanya dong, “Kak, kakak lebih memilih mencintai atau dicintai?” Pertanyaan klise memang. Dan sayapun berekspektasi untuk mendapatkan jawaban yang tidak kalah klisenya; seperti yang sering  banyak perempuan bilang, “mending dicintai daripada mencintai.” Katanya, belajar mencintai orang itu lebih mudah, daripada mencoba membuat orang yang nggak cinta jadi cinta sama kita. Jadi saya pikir, jawaban si kakakpun pasti akan menyerupai format itu. Nggak tahunya dia jawab begini, “Saya memilih dicintai, karena kalau sampai harus berpisah, hati saya nggak akan sesakit kalau saya mencintai orang tersebut.” Hmm, menarik, pikir saya. Lalu saya tanya lagi, “Pentingkah ada cinta di dalam pernikahan?” Lalu jawabnya “Tidak. Yang terpenting itu komitmen. Pasangan yang bertahun-tahun menikah, sudah tidak ada cinta lagi. Yang ada hanya perasaan nyaman, saling membutuhkan, dan komitmen.” “Lalu apakah pasangan kakek nenek yang jalan sambil gandengan tangan itu bukan karena cinta?” saya tanya lagi. “Itu tadi yang saya bilang rasa nyaman,” jawabnya.


Sekarang saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih cinta itu? Katanya di dalam bahasa Yunani, ada 4 kata yang dapat diartikan ke dalam bahasa inggris sebagai cinta, atau “love” dalam bahasa inggris, walau memiliki makna yang berbeda-beda.  Ada philiaerosstorge dan agape. Saya nggak kepengen membahas terms of love in greek ini, saya yakin kalian semua udah tahu lah. Ini saya hanya sedang mencoba mengerti, tentang apa sih sesungguhnya cinta itu.



Detik ini ada begitu banyak perasaan yang saya rasakan, terhadap berbagai orang yang berbeda, yang mungkin bisa didefiniskan sebagai cinta. Tapi karena sayapun nggak punya definisi yang definite soal apa cinta itu, saya jadi kurang yakin apakah perasaan itu memang cinta apa bukan. Saya juga nggak tahu, apa sih tanda cinta itu? Apa berkirim pesan tiap hari untuk saling bertanya kabar? Mengingatkan jangan lupa makan, mandi, buang air, bernafas? Berkorban waktu, tenaga, perasaan? Mendoakan dari jauh? Ciuman yang membuat lutut lemas? Pelukan yang hangat dan lama? Bagi tiap orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang mungkin ngamuk-ngamuk kalau pasangannya lupa ngingetin dia buat makan, dianggapnya sudah tidak cinta. Ada yang mungkin berpikir, cinta bukan cuma sekedar hal remeh temeh kayak begitu. Saya pikir sih nggak ada yang salah dan nggak ada yang absolutely benar. Bagi saya, cinta itu bukan untuk didefinisikan. Biarkanlah dia dengan segala keabstrakannya. Menurut saya, ketika saya ingin orang-orang terdekat saya bahagia, itu sekedar karena mereka adalah bagian dari diri saya, dan ketika mereka bahagia, sayapun demikian. Apakah lantas itu definisi cinta? Ya tergantung tanyanya ke siapa. Atau ketika saya melihat dia yang tidur di lantai supaya saya bisa tidur di kasur, apakah lantas saya langsung GR dan berpikir dia “berkorban” karena cinta sama saya? Ya nggak juga. Bisa aja itu cuma act of courtesy saja, ndak lebih. Atau cintakah itu kalau saat ini saya berharap bisa mendengar dengkurannya yang mungkin mengisyaratkan kalau tidurnya nyenyak? Nggak juga. Pada dasarnya, saya nggak mau lagi menebak-nebak dan mendefinisikan perasaan saya, apalagi perasaan orang. Saya sudah capek berada dalam posisi di mana saya mencoba memahami apa perasaan orang terhadap saya, dan perasaan saya terhadap orang tersebut. Untuk saat ini, saya memilih untuk tidak melabeli perasaan apapun itu yang saya rasakan terhadap seseorang, atau sesuatu. Saya hanya ingin meresapi dan menikmatinya, selagi saya masih bisa.

13.03.18

"Aku mengasihimu sekalipun kamu bukan siapa-siapa."




Hari ini kembali aku cek hasil ujianku di website universitas. Sejujurnya sedari kemarin aku sudah mempersiapkan diriku untuk meghadapi segala yang terburuk, dan meninggalkan semua ekspektasi-ekspektasi utopisch yang kumiliki selama ini. Aku mengaku pasrah, tapi aku nggak memperhitungkan sama sekali bahwa hasilnya sudah keluar hari ini.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, di sebelah nama mata kuliah ada tertulis informasi baru; "endgültig nicht bestanden." Aku coba melihat kembali dengan jelas, namun tulisan di layar komputerku tidak berubah. Aku yang saat itu sedang menerima telepon dari seorang sahabat tidak lagi mendengar apa yang dia ucapkan. Dengan dalih ingin bersiap-siap berangkat ke kerjaan, aku sudahi pembicaraan kami di telepon.

Aku tertegun kembali membaca tulisan di layar laptopku. Setelah beberapa menit memproses semuanya, tanganku mengambil handphone dan segera menelpon Standy lewat WhatsApp.
"Nggak lulus," ucapku singkat dengan suara terpelan yang pernah aku gunakan saat berbicara dengannya. Tanpa jeda untuk menghela nafas dia menjawab, "ya sudah, mulai hari ini kita fokus mikirin rencana ke depannya ya." Aku mengiyakan. Dia bicara lagi tentang makan, apakah aku mau makan di luar dan ngobrol, apa aku sudah makan. Aku sudah nggak betul-betul dengerin lagi. Sambungan telepon terputus setelah sepakat untuk bertemu nanti, sehabis aku bekerja.

Kemudian teringat olehku ucapan Standy tempo hari. Soal aku yang harus berterus terang tentang kondisi perkuliahanku kepada keluargaku. "Minimal Bapak dan Maria, mereka itu orang terdekatmu." Aku tahu dia benar, tapi aku sama sekali nggak punya nyali bercerita tentang kegagalan. Cerita kegagalan bagiku bukan suatu hal yang bisa dengan gamblang dibagikan di depan orang lain, sekalipun orang terdekatku sendiri. Namun aku merasa, saat ini adalah waktu yang tepat. Dengan HP masih di tanganku, aku mencoba menghubungi Maria. Setelah beberapa kali dering, teleponku diangkatnya. Terdengar suara bising di seberang sana.

"Hallo, kenapa?" tanyanya dengan kecuekan seperti biasa. Walau sering kesal, aku nggak bisa nyalahin dia 100 persen. Memang akulah yang sering menelpon dia untuk sekedar menggoda atau bicara hal remeh temeh lainnya. Tapi hari ini berbeda.
"Aku nggak lulus ujian."
"Heh?" ucapnya. Kali ini dengan sedikit perhatian.
"Ya, nggak lulus. Percobaan ketiga. Terancam DO."
Aku mendengar suara terperanjat di ujung sana. Adikku bicara, "Kak, serius? Kaaaak..."
Aku dengar dia permisi untuk meninggalkan ruangan. Sesaat tidak kedengaran suara apapun di bagian sana. Rasanya kayak lama sekali. Kemudian aku kembali mendengar suaranya. Ya ampun kak. kok bisa kak, terus kakak sekarang mau gimana. Aku bingung menjawab satu persatu pertanyaannya. Aku berharap timbul pernyataan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga aku tidak perlu menjawab. Namun satu hal di luar dugaanku, tidak ada sekalipun muncul kalimat yang menyalahkanku. Rasa masih nggak percaya, penasaran, terkejut, hanya itu yang terlontar darinya. Sempat dia malah menyesali kenyataan bahwa dia tidak cukup aware dengan permasalahan yang kakaknya hadapi di sini. Di satu sisi ada rasa sedikit lega dalam diriku, yang beberapa hari ini sudah terbiasa dengan "accusation" yang sebenernya mostly datang dari diriku sendiri. Tapi dadaku diliputi rasa haru ketika mendengar dia begitu mencoba memberikan suntikan kekuatan kepadaku lewat kata-katanya yang mencoba support aku untuk mau bangkit lagi. Aku ingat dia berkata bahwa mulai sekarang apapun keputusan yang aku buat harus memang karena itu dari diriku sendiri, bukan karena untuk menyenangkan bapak, dia, keluarga, tetangga, kakek nenek moyang. Bukan hanya untuk memuaskan rasa gengsiku saja. Bukan karena dorongan kekhawatiranku akan hari esok; mau jadi apa aku kelak. Dia bahkan mengatakan bahwa dia menyayangiku sekalipun nanti aku nggak jadi apa-apa. Mungkin ketika mendengar kalimat yang terakhir barusan, the classic Asrida bakal ngamuk-ngamuk dan bilang, "maksud lu? Jadi lu yakin suatu saat gw bakal ga jadi apa-apa dan lu bakal jadi lebih tinggi dari gw?" Tapi saat aku denger ucapannya, air mataku jatuh luruh karena aku menyadari, bahwa dia bicara itu bukan karena berpikir bahwa masa depanku akan berakhir suram, tapi malah sebagai bagian dari support system dia yang menyatakan bahwa apapun langkah yang nanti aku ambil dari sini, dia akan mendukung aku selalu. 

Saat itulah aku menyadari betapa bodohnya aku kalau berpikir aku sendirian dalam menghadapi semua ini. Aku memiliki support system yang lebih dari cukup dalam menghadapi dunia dan tantangan-tantangannya. Aku punya adik satu-satunya yang mendukung aku dan tetap percaya kalau aku bisa. Aku punya keluarga yang sekalipun mungkin nggak aware sama permasalahanku, namun tetap membawaku dalam doa-doa mereka. Aku punya pacar yang walaupun galak tapi mengharapkan aku memiliki masa depan yang terbaik. Aku punya teman yang bisa diajak tukar pikiran dan turut mendoakan aku. Dan di atas itu semua, aku punya Tuhan yang begitu besar, yang menyediakan rancangan terbaiknya yang spesial untukku. Maka dari itu aku ingin mulai bangkit mulai dari sekarang untuk menata kehidupanku, dengan bantuan my super support system.

kematian

Kematian adalah suatu keniscayaan dan sekaligus ketidakpastian yang terjadi pada semua makhluk hidup. Niscaya, karena pada akhirnya akan terjadi pada anda, namun tidak pasti, karena anda tidak akan pernah tahu kapan, di mana, dan bagaimana hal itu akan terjadi.

Sebagai orang percaya (yang menyebut dirinya seorang kristen, seseorang yang mengikuti ajaran Kristus meskipun kadang gagal dan jatuh), saya percaya pada konsep kehidupan setelah kematian. Fakta bahwa saya percaya hal tersebut memberi saya sedikit penghiburan setiap kali saya harus menghadapi kematian seseorang atau sesuatu (kadang kala anjing mati juga) yang saya cintai. Jadi, bahkan setelah hati saya hancur berkeping-keping setelah kematian Opung, saya selalu merasa tenang dengan berpikir bahwa sekarang dia berada di tempat yang lebih baik; lebih bahagia daripada sebelumnya. Hal yang sama terbersit ketika memikirkan mama, opung doli. Penghiburan, itulah yang saya dapatkan.

Orang atheis mungkin skeptis dan menganggap konsep kehidupan setelah kematian sebagai omong kosong belaka. Yang baik mungkin kasihan sama saya, sementara yang rada nggak baik mungkin menganggap saya tolol. Atau keduanya mungkin menganggap saya delusional. Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri: apakah ada pilihan lain yang saya miliki? Karena bagi saya ini bukan hanya masalah iman semata (meski tentunya iman memainkan peranan penting di sini) tapi juga suatu cara yang bijak untuk memilih cara menjalani hidup saya. Saya lebih suka menjalani hidup dengan mengetahui bahwa saya sedang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih baik (dan abadi) di masa depan, daripada mengatakan kepada diri saya untuk hidup sepenuhnya ', melakukan apapun yang saya inginkan (karena anda tahu, YOLO!*), karena di pada akhirnya saya akan mati juga. Bahkan saya pikir jika kehidupan setelah kematian memang tidak ada, saya tidak merasa rugi pernah mempercayainya. Kenapa memangnya jika saya hidup dengan mematuhi peraturan, mencoba melakukan apa yang tuhan atau Tuhan 'ajarkan' untuk saya lakukan dan mencoba untuk tidak melakukan apa yang mereka atau Mereka atau Dia 'larang'. Jika disebut delusional oleh orang-orang tertentu adalah satu-satunya harga yang harus saya bayar, saya rasa itu adalah hal yang kecil. Terutama dengan hadiah yang sudah saya terima sekarang, dengan percaya bahwa orang yang saya cintai berada di tempat lain selain terkubur di bawah tanah dengan cacing-cacing perlahan memakan tubuh mereka.

Saya juga mendapat penghiburan dengan melihat kehadiran mereka di dalam diri orang lain. Terkadang, saya melihat mama di dalam diri saya, saat saya melihat ke cermin. Pada lain kesempatan di dalam adik saya. Bukan hanya karena kemiripan kami dengan mama, tapi karena saya tahu beberapa hal dalam diri mama masih ada tertinggal dan berjejak di dalam diri kami. Atau juga setiap kali saya melakukan hal random yang biasanya dilakukan Opung, saya tidak dapat memungkiri kenyataan bahwa dia masih hidup melalui saya. Jadi pertanyaannya adalah; apakah mereka benar-benar pergi? Jawaban saya: I don't think so;  terlepas dari kenyataan apakah kehidupan setelah kematian memang ada, atau tidak.



-untuk Opung dan Mama-



*YOLO: you only live once (hidup cuma sekali)

death

Death is the most certain and uncertain thing that will happen to all living creatures. Certain, because it will happen to you eventually, yet uncertain, since you'll never know when, where, and how it will take place.

As a believer (who called herself a christian; someone who follows Christ's teachings though sometimes failed and tumbled down), I believe in the concept of life after death. The fact that I believe in such thing gave me a bit consolation every time I had to deal with the death of someone or something (yeah cause sometimes dogs die too) I love. So, even after my heart broke into pieces after my grandma's death, I always found comfort by thinking that she's in a better place now; happier than ever was. It went the same every time I was thinking about my mom, my grandpa. Consolation, that's what I got.

An atheist might be sceptical and find such concept as a non sense. The nice ones might pity me, while the less nice ones might think I was a fool. Or both might find me delusional. But then I ask myself: what other choice do I have? For me this isn't merely a matter of faith (although it surely plays the most significant role) but also a wiser way to choose how to live my life. I'd rather live my life, knowing that I am in the middle of preparing myself for a better (and eternal) life in the future, than telling myself to live to the 'fullest', do whatever I want (since you know, YOLO!*), because at the end of the day I will die anyway. Even if the life after death never existed, I don't see any disadvantage of believing if it does. So what if I live by obeying the rules, trying to do what god or God 'tell' me to do and trying not to do what they or They or He or She 'forbid' me. If being called delusional by certain people is the only price I should pay, I think I can manage it. Especially with the prize I already accepted, by believing that my loved ones are somewhere other than buried under the ground with worms and stuffs slowly consuming their bodies.

I also find some consolation by seeing their presence in someone else's. Sometimes, I see my mother in myself, when I look in the mirror. Some other times in my sister. Not only because of our resemblances or stuffs, but because I know that some parts of her still exist in us. Also every time I do some random things that my Grandma usually did, I can't ignore but see how she still lives through me. So the question is; are they really gone? My answer is: I don't think they are, regardless of the fact whether life after death does exist, or not.







-in loving memory of my beloved Grandma and Mom-



*YOLO: you only live once

The Rules of Dating (Me?)


Before I begin to write, I want to laugh at this kind of weird title. I don't know why I am supposed to write about this theme but it just came across my head and I thought it could be coming out as a cool stuff, since I have decided not to write such a "heavy" theme. So, just like the other entries I've written before, I hope this one can "inspire" you too :D

First of all I'd like to tell you a little secret: I am single, boyfriend-less, and you can add some other words or terms to describe someone like me. Well that's not a secret at all; everyone in the town knows I have no boyfriend. I'm not going to mourn and or telling you how awful my life is; I have an
awesome life, I have many friends around me, my family who support me, and God who loves me (and isn't it what people said, that good thing is worth waiting?)
But as a young woman in the beginning of twenties, sometimes I wonder how the guy that God has chosen for me would be. I am not specifically talking about physically things but also about his characters, and how they influence the way he views this life.

I will never know when God will trust me to build a deep relationship with a guy until the time arrives. For sure I will deepen my relationship with Him first, before I share my love with the man I'll later marry with. But I have some rules for the guy who (later) would be dating me (maybe some of these occur to any other christian women, too):

1. You must put God in the first place
As my boyfriend (or later a husband), you have to put God in your first priority. I put this as the first rule because it is absolutely important to love God who has create you first, before you commit to a relationship with another people (as I have mentioned before)

2. You are lovely and slow to anger
Once I had a friend who had a definitely handsome boyfriend and we were hanging out together. I haven't even finished admiring his handsomeness yet as I heard he grumbled about unimportant things; traffic jams, beggars. It sounded like he had hatred toward this world and everything in it. It seemed like he has never been satisfied. I don't want this kind of guy, even if he looks like Clooney.

3. You don't have foul mouth
This is very important and I don't even need to explain this further.

4. You love your family
Let me say that I am a kind of family oriented person. I love my family so much, and they have a very special part in my life. That's why it is important to me when you love your family too, and put your respect toward your parents.

5. You are a good leader
I know there are so many women who strive for women and men's equality in this world and at some points I am agree with them. But in a christian family as stated in the scripture, a husband is the head of his wife (For the husband is the head of the wife, as Christ also is the head of the church, being himself the saviour of the body, Ephesians 5:23)
So how can you be a good leader in your family? Go back to the point number one :)

6. You are wise and have self-respect
I have so many guy friends and everytime I get closer with them, one of the most important aspects I viewed on them is how they solve their problems and how they give advices to those who have problems. You can see whether someone is wise or not from the way he handles his life and how he gives advices. It is important too for a guy to have respect toward himself and being confident.

7. You are a good listener
Since I am a very talkative person it is important too to have someone who can listen to me and put some attentions in every single ideas I have :D

8. No pre-marriage sexual activities
If you know God and He has become the centre of your life, you should certainly know what the sins are and have commited yourself to stay away from them. Since for me, sex is a sacred thing that can only happen between a husband and a wife who have said their vows in front of God.


Pengampunan

Seringkali mayoritas masyarakat dewasa ini (dalam hal ini dengan menyesal gue sering termasuk ke dalamnya), mengartikan pengampunan sebagai suatu kenaifan atau lebih parahnya lagi, kemunafikan. Nggak perlu menampik, pada saat mendengar orang berkata, "Aku memaafkan si Anu", sering timbul pikiran seperti, "Dih, naif banget sih ini orang" atau "Ya elah munafik bener, pasti dalam hati masih dendam" di dalam diri kita. Fenomena kayak begini sih sebenernya manusiawi banget ya, di mana kita merasa bahwa pada saat seseorang disakiti hatinya atau dirampas haknya, ia akan sulit atau bahkan tidak bisa memaafkan orang yang sudah melakukan itu padanya. Memaafkan rasanya mustahil jadi perfect sense, terlebih ketika "luka" yang disebabkan seseorang itu teramat mendalam. Tapi yang jadi pertanyaan adalah, benarkah seseorang "dihalalkan" untuk tidak mengampuni sesamanya?

Sama kayak tulisan gue kemarin-kemarin, di sinipun gue nggak akan sok-sokan menggurui pembaca. Gue menarik pelajaran dari apa yang gue lihat di sekitar, dan dengan senang hati gue share di sini supaya kita sama-sama bisa belajar.

Hampir dua minggu yang lalu terjadi kasus menggemparkan di kota asal gue Jakarta, Indonesia. Sepasang muda-mudi yang masih berusia 19 tahun tega merencanakan pembunuhan (dan akhirnya membunuh, of course) teman seusia mereka secara sadis. Ketika membaca berita itu reaksi pertama gue tentu saja geram, dan geleng-geleng kepala. Gue nggak mampu ngebayangin 2 anak yang lebih muda dari gue bisa punya bakat algojo sedemikian rupa. Dengan perasaan geram (jujur waktu itu gue emang kesel banget) gue telusuri beritanya di salah satu situs. Seperti biasa tentunya kalo terjadi kasus-kasus demikian, para wartawan akan mengorek-orek keterangan dari keluarga, teman, sampai tetangganya tersangka dan korban. Salah satu artikel terpisah yang menggugah hati gue adalah wawancara dengan Ibu dari korban. Kata-kata beliau yang dipetik dalam berita tersebut berbunyi kira-kira begini:
"Kalau saya nggak berserah sama Tuhan, saya nggak kuat. Waktu dengar kabar anak saya, saya inget  banget Tuhan bilang pembalasan hak-Ku. Saya terngiang terus, saya berserah. Semua akan berpulang ke pencipta."

Gue jujur sempat melongo waktu baca tulisan itu. Sekedar mengingatkan, beliau adalah ibu dari seorang putri berusia 19 tahun, yang (seharusnya) punya perjalanan yang masih panjang di muka bumi ini, tapi perjalanannya harus berhenti karena dibunuh untuk alasan yang sebenarnya pun nggak jelas. Well, in my humble opinion gue harus bilang dia adalah salah satu IBU yang paling luar biasa yang pernah gue tau. Instead of teriak-teriak histeris menjambaki rambut ibu-ibu dari para tersangka, she hugs them. Untuk pertama kalinya gue melihat contoh nyata bahwa pengampunan sejati bisa diaplikasikan dalam kehidupan manusia. Lalu kemudian pertanyaannya, apa yang mendasari beliau mengampuni orang-orang yang telah membunuh putrinya?

Gue dapat menyimpulkan bahwa yang pertama adalah cinta kasih. Di I Korintus 13 ayat 5 dibilang bahwa kasih itu tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Kedua adalah kesadaran dari ibu itu sendiri bahwa sebagai manusia ia tidak berhak melakukan pembalasan. Seperti yang dikutip di atas bahwa pembalasan adalah hak-Ku (kata Tuhan), ada tertulis di Roma 12 ayat 19:
19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
Dan yang ketiga adalah suatu kesadaran yang harus kita miliki sebagai orang percaya; bahwa jauh sebelum kita dilahirkan, Allah sudah duluan mengampuni kita. Ketika Allah itu sendiri sudah mengampuni pendosa kayak gue dan lo, layakkah kita menyimpan dendam sama sesama pendosa?

Gue tau mengampuni itu nggak gampang, gue sendiripun belum lulus ujian pengampunan karena acap kali gue masih menyimpan amarah terhadap orang yang menyakiti hati gue. Tapi sebagai pengikut  Kristus konsekuensinya adalah kita harus ikut pikul salib. Itu adalah bagian tersulit yang akan kita jalani selama masih hidup di dunia ini, dan mengampuni adalah salah satu di antaranya. Ketika kita belajar bertanggung jawab dan sukarela memikul salib Yesus, saat itulah kualitas kekristenan kita bertumbuh. Nggak mau kan kalo dibilang cuma jadi kristen KTP?

So, ayo mulai belajar mengampuni mulai dari sekarang dan meneladani kisah ibu di atas! Gue percaya saat kita menurunkan ego atau ke-aku-an kita masing-masing, saat itulah pengampunan datang dan damai tercipta di hati. Salam hangat musim semi dari Hamburg :)


Kolose 3:13
"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."

Colossians 3:13 (KJV)
"Forbearing one another, and forgiving one another, if any man have a quarrel against any: even as Christ forgave you, so also do ye."







Indah Pada Waktunya


Belakangan ini, gue sedang terkena sindrom (rada) males buka timeline akun social media terutama facebook. Asal muasalnya karena beberapa bulan terakhir ini gue sering mendapati post-post temen seangkatan gue (baik yang temenan di SD, SMP ataupun SMA) yang lagi sibuk berkutat dengan skripsi, bahkan beberapa di antaranya sudah wisuda. Status-status seperti, "Ahh.. Lagi-lagi harus revisi", atau "Yay!! Akhirnya skripsi diterima..", atau kayak "Mama, Papa.. Akhirnya aku penuhi janji untuk lulus sebagai sarjana!" rasanya bikin gue sedikit sensi. Maklum aja, sebagai rekan sejawat mereka dulu dalam bermain lompat tali, gue belum punya prestasi akademik apa-apa yang bisa dibanggain, kayak mereka. Perasaan iri kadang jadi nggak bisa terelakkan; manusiawi.

Di waktu temen-temen gue udah sibuk ngerancang kebaya buat wisuda, gue bahkan belum memulai tahun pertama gue di Uni. Terkadang datang perasaan nyesek mengingat umur gue yang makin hari makin tua bukan makin muda. Penyesalan-penyesalan yang dulunya nggak pernah terpikirkanpun perlahan-lahan menghampiri. Kenapa dulu gue nggak begini, kenapa dulu nggak begitu. Kenapa dulu ambil jalan A, kenapa nggak ambil jalan B. Hal-hal kayak gini sometimes bikin gue jadi down sendiri, dan mulai berpikir negatif.

Kira-kira sebulan yang lalu gue terlibat obrolan dengan salah seorang teman baik gue di SMA via skype. Dia juga lagi study di Jerman, cuma beda kota sama gue. Persis kayak gue, dia harus ngelewatin tahap sekolah bahasa dan Studienkolleg dulu, sebelum mulai kuliah di universitas. Awalnya kita ngobrol tentang masa bodoh-bodohnya kita waktu SMA; main bareng, nongkrong bareng, ngatain orang bareng (dan kelakuan-kelakuan kurang terpuji lainnya), sampe akhirnya gue cerita tentang salah seorang temen baik kita juga yang udah wisuda. Habis cerita, gue nanya gini ke temen gue, "Tan (namanya Tania), lo suka ngerasa kayak rendah diri gitu nggak sih karena telat lulus kuliah dibanding temen yang lain?"
Si Tania ketawa. Trus dia jawab, "Ah nggaklah.. Emang lo iya, Jan?(anak sekelas gue manggil gue dulu Janda dan jangan tanyakan mengapa)" Gue mengangguk lirih. Si Tania ketawa lagi. "Lah ya ngapain sih Jan? Kita semua kan ada rejeki masing-masing. Temen-temen bisa kelar duluan kuliahnya, nah kita puji Tuhan bisa ngerasain belajar di negeri orang. Lagian kan kita harus belajar bahasa baru dulu, penyetaraan dulu, jadi wajar dong kalo kita agak telat lulusnya.."

Di satu sisi gue mengerti dan bisa menerima argumen si Tania, di mana guepun menyadari bahwa semua ini udah jadi pilihan gue. Guelah yang milih buat nganggur ga kuliah setahun, di saat bokap udah suruh gue buat kuliah aja di universitas swasta. Gue juga yang milih buat setahun belajar bahasa di Jerman, belajar kultur dan segala tetek bengeknya. Seharusnya gue nggak perlu menyesali itu semua, gue hanya perlu menata kehidupan gue ke depannya. Tapi sebagai manusia yang masih hidup dalam daging, sifat-sifat kedagingan seperti iri hati, negatif thinking, over worrying masih suka datang menghampiri. Kebiasaan gue yang membanding-bandingkan diri ke orang lain ("Dulu gue juara kelas dan dia masuk sepuluh besar juga nggak, kok bisa 3.5 tahun dia udah jadi sarjana?") itulah sebenarnya yang merupakan racun yang bikin gue jadi tawar hati. Kecenderungan berpikir negatif itu yang bikin gue males tiap kali mendapati kenyataan bahwa temen-temen gue bakal wisuda dalam waktu dekat. Instead of happy for them, gue malah merutuki nasib gue sendiri yang menurut gue masih "stuck" di situ-situ aja.

Namun setelah gue pikirkan lebih dalam lagi, gue makin sadar bahwa sebenernya nggak ada gunanya memelihara perasaan negatif kayak begitu. Dan perasaan itu, gue yakin nggak akan muncul kalau gue bisa menghargai diri gue sendiri. Kalau gue melihat ke belakang; di antara titik di mana gue pertama memulai perjalananan setelah lulus SMA dan titik di mana gue berdiri sekarang ada terbentang jarak. Dan jarak itulah yang menunjukkan bahwa gue bergerak dan bukan stagnan. Pada jarak itulah gue jatuh dan bangun, jatuh dan bangun lagi. Saat menempuh jarak itulah gue banyak belajar, gue banyak ketemu orang-orang baru yang menarik, melihat dunia dengan perspektif yang nggak sama lagi dengan waktu gue memulai perjalanan. Kenyataan itu membuat perasaan gue jauh lebih baik, ketimbang saat gue membanding-bandingkan diri gue sama orang lain. Hal ini membuat gue belajar bahwa you don't have to be better than anyone else, you just have to be better than the past "you".

Satu hal lagi yang sebenernya paling penting adalah pelajaran yang gue ambil dari Pengkotbah 3. Bahwa tiap-tiap hal ada masanya, ada waktunya masing-masing. Jadi gue nggak perlu sedih dan rendah diri di saat Tuhan memberikan berkat wisuda itu duluan ke teman-teman gue yang lain. Mungkin (atau bukan mungkin tapi pasti!) Tuhan punya rencana yang indah kenapa Dia kasih jalan gue sedikit lebih panjang. Yang perlu gue lakukan cuma berusaha untuk kasih yang terbaik, dan percaya. Gue harus mulai meletakkan semua kekhawatiran gue yang nggak penting, dan kasih Tuhan yang pegang kemudi. Gue percaya kelak waktu gue udah wisuda, gue akan mengerti why some things take longer journeys, sometimes detours too. Kelak gue akan mengerti apa yang dimaksud dalam ayat ini:




Pengkotbah 3:11
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."


Ecclesiastes 3:11 (KJV)
"He hath made every thing beautiful in his time, also he hath set the world in their heart, so that no man can find out the work that God maketh from the beginning to the end."
















Siapakah Aku Ini Tuhan?

Holla! Hari ini hampir tengah malam gue menulis satu pos yang mungkin nggak akan terlalu panjang di blog ini. Jujur gue suka merasa ada dorongan untuk menulis sesuatu tentang Tuhan dan relasi gue dengan Tuhan sendiri, tapi baru kali inilah gue "memberanikan diri" menuliskannya, tepat setelah gue saat teduh.

Beberapa hari yang lalu, 2 teman baik gue Kezhia dan Devi ngajak gue main ke apartemen mereka. Dua-duanya bersama salah satu temen kita yang lain Melky agaknya menunjukkan kekhawatiran terhadap sikap gue yang belakangan jadi ansos. Memang guepun bingung sama kelakuan diri sendiri, yang cenderung lebih suka sendirian ketimbang ngumpul sama teman. Memang terkadang ada saat di mana kita butuh waktu untuk diri kita sendiri, tapi pada satu level tertentu kadang ke "solitude" an kita itu bisa berdampak negatif juga. Gue menyadari, dengan (hampir) menutup pergaulan gue terhadap lingkungan luar (dalam hal ini temen-temen student, temen-temen Indo dan jemaat gereja) secara nggak langsung menghambat pertumbuhan iman gue juga.

Sabtu gue datang ke apartemen mereka dengan misi memasak Rawon. Kezhia yang lagi nggak enak badan dan Devi yang lagi galau habis mimpi kedua mantannya (hahahaha) tetap menyambut gue sekalipun keadaan mereka nggak terlalu okay hari itu. Kita masak, cerita, makan, ketawa-ketawa, sharing dan akhirnya waktu memaksa gue harus pulang. Sebelum pulang kita janjian untuk besoknya pergi gereja ke International Baptist Church.

Besoknya kitapun pergi ke gereja. Gue dan Devi yang baru pertama ikut kebaktian di sana terkagum-kagum dengan khotbah dan pujian penyembahannya. Di jalan pulang pun kita masih nggak henti-henti memuji community yang baru aja kita temukan ini. Di rumah, Devi cerita soal kesedihan hatinya karena mantan pacarnya udah jadian lagi alias udah move on. Gue bisa merasakan kegalauan dia karena ngebayangin mantan gue move on gue mungkin bisa nangis darah. Tapi gue lihat begitu Devi ngandelin Tuhan banget di dalam kehidupannya, sehingga dia bisa lebih plong walau masih
keinget memori bareng mantan yang pacaran dengan dia selama 3 tahun. Untuk mengalihkan perhatian kita browsing-browsing sekolah dan denger khotbah Francis Chan dari Youtube.

Waktu denger khotbah tiba-tiba Devi bilang, "Oh ya Asrida kamu harus baca buku ini," sambil ngasih buku berjudul "Crazy Love" yang ditulis Francis Chan. Gue yang emang suka baca buku tentang cinta-cintaan langsung menyambut dengan mesra buku tersebut dan membawanya ke rumah buat dibaca.

Ternyata bukan cinta picisan biasa yang dibahas di dalamnya.

Buku yang baru gue baca 2 bab pertamanya itu sampai sekarang masih ada di meja belajar gue, persis di sebelah gue ngetik sekarang. Buku yang udah duluan bikin Devi nangis waktu dia membacanya, seperti ngebuka mata gue tentang relationship gue sama Tuhan, bahkan saat gue masih sampai di dua bab pertamanya. Buku yang menggambarkan betapa besarnya Allah itu; yang mendorong gue menulis judul entry ini: "Siapakah Aku ini Tuhan?" Gue seperti dihentakkan tiba-tiba, ditampar
dengan kenyataan bahwa "Asrida, lo ini kecil. Di mata Tuhan lo ibarat capung, atau mungkin sebutir pasir di pantai." Bayangin kalo lo ngambil satu ember kecil pasir di pinggir pantai, apa akan ngubah pantai tersebut? Apa tiba-tiba angin ribut datang dan tsunami dan sebagainya? Nggak.. Lo bayangin sekarang kalo kita cuma sebutir dari pasir di dalam ember kecil tersebut. We are nothing towards Him.

Gue menyadari sikap ansos gue selama ini bukan hanya kesombongan gue terhadap teman-teman gue, tapi juga kesombongan gue terhadap Allah itu sendiri. Gue secara nggak langsung pengen menunjukkan bahwa gue bisa tanpa bantuan siapa-siapa, gue survive tanpa Dia and I am okay with it. Dan itu salah besar, gue salah besar dan lebih buruknya lagi nggak ada bener-benernya sedikitpun dari apa yang gue pikirin itu. Tapi kabar baiknya, Tuhan masih, dan akan tetap sayang gue dan mau gue sama-sama dengan-Nya.
Agaknya Tuhan menyadarkan gue lewat dua teman gue yang manis dan selalu memotivasi gue buat membangun relasi yang mesra dengan-Nya. Lewat buku Francis Chan, lewat tulisan-tulisan beliau yang begitu to the point, gue tersadar dari kekeliruan terbesar gue yang selama ini sering gue ingkari; perasaan bahwa gue penting, dan bukan Tuhan yang penting.

Beliau menganalogikan kehidupan ini sebagai film, di mana Tuhan sebagai pemeran utamanya. Manusia yang sekarang hidup, nenek-nenek moyang kita yang sudah nggak ada, Abraham Lincoln, Petrus, Daud, Elia, Yakub, Nuh, Adam dan Eva, semuanya kita hanyalah figuran yang tampil di film kehidupan ini sebentar saja; mungkin 2.5 detik dari durasi film. Jadi betapa bodohnya kalau kita; gue dan lo semua merasa diri penting dan "menuhankan" urusan kita masing-masing dan bukan Tuhan. Gue tersadar betapa picik gue selama ini; dalam berdoa, dalam meminta sama Tuhan. Terkesan gue ingin Tuhan takes control atas hidup gue, padahal sebenarnya gue lah yang mau take control atas hidup gue sendiri.

Tapi satu hal yang luar biasa dari Tuhan kita, di antara semua keluarbiasaan-Nya tersebut adalah bahwa gue, lo, kita butiran pasir di pantai ini berharga di matanya. Dia sayang sama kita, Dia menginginkan kita, dan di atas itu semua Dia mau kita lepas dari dosa dan balik sama Dia. Gue nggak tahu apa Raja-raja di dunia ini mengasihi rakyat mereka seperti Allah kasih sama kita? Dia bahkan jauh melebihi Raja-raja dunia, tapi Dia cinta sama kita. Kenyataan itu gue harap membuat kita semua makin merasa rendah. Tapi merasa rendah jangan menghalangi kita untuk datang ke hadirat-Nya. Malah, kita harus makin giat menaikkan puji-pujian dan hormat syukur. No, bukan karena kita orang baik dan religius. Tapi yes, karena Tuhan udah lebih dulu sayang sama kita, bahkan saat kita masih di rahim ibu kita.

Mungkin hidup yang akan gue jalani ke depannya nggak akan luput dari tantangan, sama seperti gue tadi bilang post ini nggak akan panjang tapi akhirnya jadi panjang, gue nggak punya kendali atas semuanya yang ada di atas bumi ini. Dia yang punya. Maka gue cuma berharap bahwa selama kita masih bernapas, biarlah semua yang kita lakukan hanya demi kemuliaan-Nya. Dan semoga, gue berhenti jadi ansos :D


I Korintus 10:31
"Aku menjawab: jika engkau makan dan jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah."



Note:
*ansos: anti sosial