Standard English vs. Dialects (Summarising HW)

The article titled “The importance of proper and improper English”, Johnson (November 2nd 2017) explains some criticisms of Tom Sherrington’s blog post titled “Let’s talk properly”, which is addressed to teachers, asking them to encourage students to communicate in standard English. The critics come from Rob Dummond, a linguist at Manchester Metropolitan University and Oliver Kamm, a journalist at the Times. They criticise the use of the word “properly” along with related words like “correct”, suggesting that such fierce argument sums up the way academic linguists (especially sociolinguists) see standard English. While teachers see a sentence such as “I aint done nothing” as simply wrong, linguists find dialects as rule-governed, coherent and fully expressive; which only sound wrong to those who don’t understand the rule. There might be political aspect surrounding the debate. Dialects are usually linked to poor, non-white and less educated society, which leads to false discourse that their language must be one of the things that holds these people back. Both sides agree that standard English is indeed necessary, and while it’s fine to speak it in different accents, grammatical correctness is absolutely needed. But children who speak other than standard English at home, should not be discouraged about their home speech. After all, dialects are as valuable as the standard English, they give the speakers some sense of belonging and identities. Children should rather be taught the occasion, where and when they need to switch between language varieties. Teaching the ability to understand the difference, or even translate one variety of language to another is proven to be more effective than to prevent the students to speak in dialects at all. (277 words)



The original article can be found here:

Sampai Jadi Debu





Belakangan ini gue lagi seneng dengerin satu lagunya 'Banda Neira' yang judulnya 'Sampai Jadi Debu'. Liriknya pendek dan simple begini:

Badai Tuan (Puan) telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang, kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu Selamanya... Sampai kita tua Sampai jadi debu Ku di liang yang satu, ku di sebelahmu

Lagu ini dengan segala komponen di dalamnya menjadi satu kesatuan yang ciamik di telinga gue. Intro dengan dentingan pianonya yang indah, suaranya Rara Sekar (yang gue barusan find out ternyata mbak kandungnya Isyana Sarasvati) yang soothing, liriknya yang nggak banyak kata-kata tapi sarat makna. I shamelessly admit that I sobbed like a crybaby when I first listened to the song properly (and it was in a train full of people HAHAHA). Gue bilang properly, karena sebenernya gue udah pernah denger lagu ini sebelumnya, tapi memang hanya sepintas dan nggak bener-bener kayak mencerna kata-katanya gitu. 
Pas gue dengerin lagu ini di kereta itu, pikiran gue melayang ke Siborong-borong, kampung halaman gue di Sumatera sana, tempat di mana jasad kakek dan nenek gue dimakamkan berdampingan. Jarak waktu kepergian mereka memang lumayan jauh (kakek di tahun 1981 sedangkan nenek menyusul di tahun 2016 silam) namun arrangement ini sudah dibuat jauh sebelum mereka pergi meninggalkan dunia fana ini. Jadi ceritanya, orangtua dari kakek gue punya satu kavling tanah yang diperuntukkan khusus untuk tempat peristirahatan abadi mereka dengan keturunan-keturunannya. Hal seperti ini memang common dalam tradisi batak, dan juga mungkin etnis lainnya di Indonesia. Di tempat itu, pasangan suami dan istri dimakamkan bersebelahan satu dengan yang lainnya. 
To me, my Grandma was a living testimony that being buried next to your significant other can be something to look forward to :D Gue inget banget, selain udah menyediakan kebaya yang mau dia pakai di peti matinya, nenek gue juga selalu bilang bahwa nanti dia akan 'tidur' bersebelahan dengan kekasih jiwanya, kakek gue. 
Bagi gue sih, dikubur sebelahan atau tindih-tindihan atau nggak, gue percaya gue akan bersatu sama orang-orang yang gue cintai di dunia sana nanti. Mungkin bukan dengan bentuk yang seperti sekarang, dan mungkin bukan dengan cara-cara yang bisa gue bayangkan, tapi gue percaya gue akan ketemu mereka lagi nanti, terlepas gue dikubur dekat mereka, atau dikremasi (which I highly consider, karena harga tanah kuburan kan mahal). Tapi gue dapat memahami keinginan banyak orang untuk dimakamkan dekat dengan orang yang mereka cintai, kayak yang di lagu Banda Neira ini. Waktu kita begitu nyaman dan amannya berada di dekat seseorang, bukankah yang kita inginkan adalah terus berada di sebelahnya? Bahkan mungkin kematianpun nggak cukup untuk menjadi penghalang untuk kita ingin terus berada bersama-sama dengan mereka.

Upaya Sia Sia Mendefinisikan Cinta

Kemarin saya berbincang dengan seorang teman yang usianya terpaut lumayan jauh di atas saya. Konon katanya, semakin banyak umur seseorang, semakin banyak pula pengalamannya. Jadi saya bertanya dong, “Kak, kakak lebih memilih mencintai atau dicintai?” Pertanyaan klise memang. Dan sayapun berekspektasi untuk mendapatkan jawaban yang tidak kalah klisenya; seperti yang sering  banyak perempuan bilang, “mending dicintai daripada mencintai.” Katanya, belajar mencintai orang itu lebih mudah, daripada mencoba membuat orang yang nggak cinta jadi cinta sama kita. Jadi saya pikir, jawaban si kakakpun pasti akan menyerupai format itu. Nggak tahunya dia jawab begini, “Saya memilih dicintai, karena kalau sampai harus berpisah, hati saya nggak akan sesakit kalau saya mencintai orang tersebut.” Hmm, menarik, pikir saya. Lalu saya tanya lagi, “Pentingkah ada cinta di dalam pernikahan?” Lalu jawabnya “Tidak. Yang terpenting itu komitmen. Pasangan yang bertahun-tahun menikah, sudah tidak ada cinta lagi. Yang ada hanya perasaan nyaman, saling membutuhkan, dan komitmen.” “Lalu apakah pasangan kakek nenek yang jalan sambil gandengan tangan itu bukan karena cinta?” saya tanya lagi. “Itu tadi yang saya bilang rasa nyaman,” jawabnya.


Sekarang saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih cinta itu? Katanya di dalam bahasa Yunani, ada 4 kata yang dapat diartikan ke dalam bahasa inggris sebagai cinta, atau “love” dalam bahasa inggris, walau memiliki makna yang berbeda-beda.  Ada philiaerosstorge dan agape. Saya nggak kepengen membahas terms of love in greek ini, saya yakin kalian semua udah tahu lah. Ini saya hanya sedang mencoba mengerti, tentang apa sih sesungguhnya cinta itu.



Detik ini ada begitu banyak perasaan yang saya rasakan, terhadap berbagai orang yang berbeda, yang mungkin bisa didefiniskan sebagai cinta. Tapi karena sayapun nggak punya definisi yang definite soal apa cinta itu, saya jadi kurang yakin apakah perasaan itu memang cinta apa bukan. Saya juga nggak tahu, apa sih tanda cinta itu? Apa berkirim pesan tiap hari untuk saling bertanya kabar? Mengingatkan jangan lupa makan, mandi, buang air, bernafas? Berkorban waktu, tenaga, perasaan? Mendoakan dari jauh? Ciuman yang membuat lutut lemas? Pelukan yang hangat dan lama? Bagi tiap orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang mungkin ngamuk-ngamuk kalau pasangannya lupa ngingetin dia buat makan, dianggapnya sudah tidak cinta. Ada yang mungkin berpikir, cinta bukan cuma sekedar hal remeh temeh kayak begitu. Saya pikir sih nggak ada yang salah dan nggak ada yang absolutely benar. Bagi saya, cinta itu bukan untuk didefinisikan. Biarkanlah dia dengan segala keabstrakannya. Menurut saya, ketika saya ingin orang-orang terdekat saya bahagia, itu sekedar karena mereka adalah bagian dari diri saya, dan ketika mereka bahagia, sayapun demikian. Apakah lantas itu definisi cinta? Ya tergantung tanyanya ke siapa. Atau ketika saya melihat dia yang tidur di lantai supaya saya bisa tidur di kasur, apakah lantas saya langsung GR dan berpikir dia “berkorban” karena cinta sama saya? Ya nggak juga. Bisa aja itu cuma act of courtesy saja, ndak lebih. Atau cintakah itu kalau saat ini saya berharap bisa mendengar dengkurannya yang mungkin mengisyaratkan kalau tidurnya nyenyak? Nggak juga. Pada dasarnya, saya nggak mau lagi menebak-nebak dan mendefinisikan perasaan saya, apalagi perasaan orang. Saya sudah capek berada dalam posisi di mana saya mencoba memahami apa perasaan orang terhadap saya, dan perasaan saya terhadap orang tersebut. Untuk saat ini, saya memilih untuk tidak melabeli perasaan apapun itu yang saya rasakan terhadap seseorang, atau sesuatu. Saya hanya ingin meresapi dan menikmatinya, selagi saya masih bisa.

Hari Ini

Hari ini adalah tentang sebuah hujan di penghujung bulan oktober,
dengan angin kencangnya yang merusak payung-payung murahan yang kemudian berakhir di tong sampah stasiun.

Hari ini adalah tentang belajar huruf-huruf inggris kuno yang kemudian mendapat pengaruh dari bahasa  prancis, latin dan nordic di abad pertengahan. Sulit, namun fascinating.

Hari ini adalah tentang gym yang penuh dengan orang-orang berolah raga dengan tubuh bau keringat. Entah yang ingin menurunkan berat badan atau ingin menambah massa otot. Walaupun berbeda-beda, namun masing-masing pasti memiliki tujuan.

Hari ini adalah tentang seorang nenek di kereta yang bercerita kepada seorang kakek, tentang ketidaksabarannya untuk segera tiba di rumah dan menelepon putranya yang sedang berada di Catalonia.

Hari ini adalah tentang sebuah semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

13.03.18

"Aku mengasihimu sekalipun kamu bukan siapa-siapa."




Hari ini kembali aku cek hasil ujianku di website universitas. Sejujurnya sedari kemarin aku sudah mempersiapkan diriku untuk meghadapi segala yang terburuk, dan meninggalkan semua ekspektasi-ekspektasi utopisch yang kumiliki selama ini. Aku mengaku pasrah, tapi aku nggak memperhitungkan sama sekali bahwa hasilnya sudah keluar hari ini.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, di sebelah nama mata kuliah ada tertulis informasi baru; "endgültig nicht bestanden." Aku coba melihat kembali dengan jelas, namun tulisan di layar komputerku tidak berubah. Aku yang saat itu sedang menerima telepon dari seorang sahabat tidak lagi mendengar apa yang dia ucapkan. Dengan dalih ingin bersiap-siap berangkat ke kerjaan, aku sudahi pembicaraan kami di telepon.

Aku tertegun kembali membaca tulisan di layar laptopku. Setelah beberapa menit memproses semuanya, tanganku mengambil handphone dan segera menelpon Standy lewat WhatsApp.
"Nggak lulus," ucapku singkat dengan suara terpelan yang pernah aku gunakan saat berbicara dengannya. Tanpa jeda untuk menghela nafas dia menjawab, "ya sudah, mulai hari ini kita fokus mikirin rencana ke depannya ya." Aku mengiyakan. Dia bicara lagi tentang makan, apakah aku mau makan di luar dan ngobrol, apa aku sudah makan. Aku sudah nggak betul-betul dengerin lagi. Sambungan telepon terputus setelah sepakat untuk bertemu nanti, sehabis aku bekerja.

Kemudian teringat olehku ucapan Standy tempo hari. Soal aku yang harus berterus terang tentang kondisi perkuliahanku kepada keluargaku. "Minimal Bapak dan Maria, mereka itu orang terdekatmu." Aku tahu dia benar, tapi aku sama sekali nggak punya nyali bercerita tentang kegagalan. Cerita kegagalan bagiku bukan suatu hal yang bisa dengan gamblang dibagikan di depan orang lain, sekalipun orang terdekatku sendiri. Namun aku merasa, saat ini adalah waktu yang tepat. Dengan HP masih di tanganku, aku mencoba menghubungi Maria. Setelah beberapa kali dering, teleponku diangkatnya. Terdengar suara bising di seberang sana.

"Hallo, kenapa?" tanyanya dengan kecuekan seperti biasa. Walau sering kesal, aku nggak bisa nyalahin dia 100 persen. Memang akulah yang sering menelpon dia untuk sekedar menggoda atau bicara hal remeh temeh lainnya. Tapi hari ini berbeda.
"Aku nggak lulus ujian."
"Heh?" ucapnya. Kali ini dengan sedikit perhatian.
"Ya, nggak lulus. Percobaan ketiga. Terancam DO."
Aku mendengar suara terperanjat di ujung sana. Adikku bicara, "Kak, serius? Kaaaak..."
Aku dengar dia permisi untuk meninggalkan ruangan. Sesaat tidak kedengaran suara apapun di bagian sana. Rasanya kayak lama sekali. Kemudian aku kembali mendengar suaranya. Ya ampun kak. kok bisa kak, terus kakak sekarang mau gimana. Aku bingung menjawab satu persatu pertanyaannya. Aku berharap timbul pernyataan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga aku tidak perlu menjawab. Namun satu hal di luar dugaanku, tidak ada sekalipun muncul kalimat yang menyalahkanku. Rasa masih nggak percaya, penasaran, terkejut, hanya itu yang terlontar darinya. Sempat dia malah menyesali kenyataan bahwa dia tidak cukup aware dengan permasalahan yang kakaknya hadapi di sini. Di satu sisi ada rasa sedikit lega dalam diriku, yang beberapa hari ini sudah terbiasa dengan "accusation" yang sebenernya mostly datang dari diriku sendiri. Tapi dadaku diliputi rasa haru ketika mendengar dia begitu mencoba memberikan suntikan kekuatan kepadaku lewat kata-katanya yang mencoba support aku untuk mau bangkit lagi. Aku ingat dia berkata bahwa mulai sekarang apapun keputusan yang aku buat harus memang karena itu dari diriku sendiri, bukan karena untuk menyenangkan bapak, dia, keluarga, tetangga, kakek nenek moyang. Bukan hanya untuk memuaskan rasa gengsiku saja. Bukan karena dorongan kekhawatiranku akan hari esok; mau jadi apa aku kelak. Dia bahkan mengatakan bahwa dia menyayangiku sekalipun nanti aku nggak jadi apa-apa. Mungkin ketika mendengar kalimat yang terakhir barusan, the classic Asrida bakal ngamuk-ngamuk dan bilang, "maksud lu? Jadi lu yakin suatu saat gw bakal ga jadi apa-apa dan lu bakal jadi lebih tinggi dari gw?" Tapi saat aku denger ucapannya, air mataku jatuh luruh karena aku menyadari, bahwa dia bicara itu bukan karena berpikir bahwa masa depanku akan berakhir suram, tapi malah sebagai bagian dari support system dia yang menyatakan bahwa apapun langkah yang nanti aku ambil dari sini, dia akan mendukung aku selalu. 

Saat itulah aku menyadari betapa bodohnya aku kalau berpikir aku sendirian dalam menghadapi semua ini. Aku memiliki support system yang lebih dari cukup dalam menghadapi dunia dan tantangan-tantangannya. Aku punya adik satu-satunya yang mendukung aku dan tetap percaya kalau aku bisa. Aku punya keluarga yang sekalipun mungkin nggak aware sama permasalahanku, namun tetap membawaku dalam doa-doa mereka. Aku punya pacar yang walaupun galak tapi mengharapkan aku memiliki masa depan yang terbaik. Aku punya teman yang bisa diajak tukar pikiran dan turut mendoakan aku. Dan di atas itu semua, aku punya Tuhan yang begitu besar, yang menyediakan rancangan terbaiknya yang spesial untukku. Maka dari itu aku ingin mulai bangkit mulai dari sekarang untuk menata kehidupanku, dengan bantuan my super support system.

PRAGUE
























Best Part


I just wanna see how beautiful you are
You know that I see it

I know you're a star

Where you go I follow
No matter how far
If life is a movie
Oh you're the best part



-Daniel Caesar-