Opini

Disclaimer: tulisan gue kali ini mungkin tidak mewakili opini orang banyak, dan sama sekali bukan dimaksudkan untuk menggiring opini orang untuk sama seperti gue. Jika memang ada, intensi dari tulisan ini hanyalah sekedar berbagi kisah tentang satu hal dari sudut pandang seorang Asrida. Feel free to agree or disagree :)




Hari minggu kemaren tepatnya tanggal 7 Juli 2019, ada satu parhelatan akbar digelar di Cologne, namanya Christopher Street Day atau biasa disingkat CSD. Hari itu, ratusan atau mungkin ribuan manusia yang masuk ke dalam golongan LGBTQ (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Queer) turun ke jalan untuk berparade, dan juga disertai demonstrasi. Bukan hanya mereka, banyak aktivis - aktivis pendukung hak - hak kaum LBGTQ juga turut serta di sana. Sore itu, kereta gue pulang dari Bonn menuju Duisburg sesak penuh dengan para peserta parade, berhubung Cologne adalah salah satu kota yang dilewati. Karena kereta penuh, gue terpaksa harus berdiri di gerbong khusus sepeda. 

Berhubung perjalanan lumayan jauh, gue seperti biasa melakukan observasi terhadap keadaan tiap penumpang di kereta. Seperti tadi gue bilang, penumpang kereta terutama di gerbong gue didominasi sama peserta parade CSD, walaupun ada sebagian juga penumpang biasa kayak gue yang kebetulan bepergian di hari minggu itu. Gue lihat ekspresi lelah tapi bahagia menghiasi wajah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah kaum muda, gue taksir berusia sekitar 30 tahunan ke bawah, walaupun ada satu pria yang mencuri perhatian gue karena terlihat paling “senior” dibandingkan yang lainnya.

Waktu mata gue berpindah ke tempat lain (tentunya observasi ini gue lakukan dengan tidak terang - terangan seperti misalnya memelototi satu persatu penumpang di kereta, karena gue tahu itu tidak sopan), gue melihat sepasang gadis muda mungkin berusia akhir belasan tahun sedang bercengkrama dan bermanja - manjaan dengan satu sama lain. To my surprise, seeing this doesn’t bother me as bad as it might do when I was still younger. Gue melihat ke arah mereka sepersekian detik, sebelum gue akhirnya memalingkan wajah ke arah jendela. Gue di situ mikir, “Apa ini artinya gue sudah menerima fenomena pasangan sesama jenis sebagai bagian dan hal yang lumrah dalam kehidupan?” For a moment, I kind of blamed holywood since it’s by them that I’ve been exposed with LBGT culture through movies and series, which now makes me 'immune' from seeing two girls kissing. Don’t get me wrong, gue bukan tipe orang yang kenceng - kenceng bilang “amit amit” atau bahkan ngelepeh saat menyaksikan adegan semacam itu (and yes, I know a story about an indonesian girl who spitted on the ground right after witnessing two guys kissing in a Paris metro, right in front of the guys, and the rest of the story was quite ugly for the girl) tapi sejujurnya, di dalam diri gue ada sesuatu ketidaknyamanan ketika melihat sepasang insan berjenis kelamin sama bercumbu. Buat gue, itu simply nggak natural aja. Ini terlepas dari apa yang diajarkan dan dipercayai oleh agama gue, because right now I’m not talking about my religious believe, I’m talking about my immediate, basic feeling when it comes to react about something. Tapi kemaren gue menyadari, diri gue tidak terusik dengan pemandangan tersebut, separah yang biasanya gue pikir. Rasa nggak nyamannya hampir sama saja saat gue lihat pasangan heteroseksual ber-PDA (Public Display of Affection atau mempertontonkan kemesraan di muka umum). Memang, I’m not a fan of PDA. 

Tapi satu hal yang gue seketika sadari saat itu adalah, kalau lo memang merasa nggak nyaman atau nggak suka lihat sesuatu, lo bisa tinggal buang muka dan berhenti melihat hal tersebut. Nggak ada orang yang memaksa lo untuk lihat sesuatu, kalau memang lo nggak mau. Hal ini berlaku juga sama tayangan di televisi yang misalnya menurut lo nggak bermutu. Nggak ada yang maksa lo nonton acara itu, lo bisa ganti channel. Atau lo bisa matiin TV, dan baca buku misalnya, atau jalan - jalan ke taman. Terkadang kita sibuk memperdebatkan sesuatu, menggerutu tentang dan mengutuki sesuatu padahal kita bisa mengambil langkah untuk menghindari hal tersebut. Soal pelaku LBGT, banyak teman - teman seagama gue bilang, kalau kita sebagai umat beragama yang tahu 'hal yang lebih baik' punya beban moral dan berkewajiban untuk mengajak saudara - saudara yang jalannya “melenceng” itu untuk kembali ke jalur yang benar.  Atau setidaknya mendoakanlah. Gue pikir, kalau memang kewajiban gue adalah mendoakan tiap - tiap masalah di dunia ini, biarlah gue minta kemampuan terlebih dahulu dari Tuhan untuk melakukan itu. Tapi sebelumnya, gue juga mau diperlengkapi dengan hati yang tidak gampang menghakimi orang lain.

Di tengah stasiun Düsseldorf dan Düsseldorf Airport, kereta ngerem mendadak. Gue yang berdiri dengan sendal hak tinggi yang heboh hampir aja jatuh ke sisi kanan. Di sebelah kanan gue, seorang pria homoseksual berkulit cokelat kinclong bersikap siap mau menangkap gue kalau - kalau gue jatuh ke arahnya. Gue tersenyum, tanda terima kasih gue. Senyum gue akan tetap sama sekiranya dia itu hetero, bi, anak kecil, orang muda, kakek - kakek, nenek - nenek, asia, kulit gelap. Apapun itu, tindakan baik layak mendapatkan balasan yang baik pula. Gue tahu beberapa orang dari kaum LBGTQ yang kelakuannya norak dan nggak jelas, tapi yang hetero juga lebih banyak. Okelah ini dikarenakan populasi orang ber-orientasi seksual hetero lebih banyak dibandingkan yang homo atau bi-, namun poinnya adalah, kita nggak bisa menjadikan orientasi seksual seseorang sebagai tolak ukur untuk menilai kepribadiannya dan juga sebagai penentu bagaimana kita harus bersikap terhadapnya. Dan kita nggak perlu jadi aktivis pejuang hak LGBTQ untuk bersikap baik dan respectful terhadap mereka. Kita bahkan nggak perlu setuju sama lifestyle mereka (gue yakin ada orang yang pro-lgbt di luar sana yang mikir gue bigot karena gue nggak nyaman lihat cewek sama cewek ciuman.) Kita hanya perlu menjadi manusia. Menjadi manusia itu apa sih? Menurut gue simpelnya jadi manusia itu, perlakukanlah orang lain sebagaimana lu mau diperlakukan. Lo nggak mau disentil? Jangan sentil orang lain duluan. Lo lagi susah mau ditolong? Mulailah dengan menolong orang lain duluan. Boleh fokus sama hubungan vertikal dengan Tuhan, tapi jangan abaikan hubungan horizontal dengan sesama, sekalipun terkadang paham kita dengan sesama suka bentrok.

Renata dan Ursula




Waktu gue dulu pernah kerja babysit di satu keluarga Jerman di Hamburg, ibu dari si anak yang gue jaga pernah bilang gini "Asrida, kalo saya perhatiin kamu itu gampang deket ya sama orang tua." Bukan tanpa alasan dia ngomong gitu ke gue, sebelumnya dia lihat gue ngobrol akrab sama ibunya, atau neneknya anak-anak, yang umurnya saat itu 72 tahun. Dia bahkan bilang kalau gue kelihatan lebih enjoy ngobrol dengan ibunya daripada dia, yang gue bales dengan cengengesan aja. Gue nggak heran sebenernya kalau orang bisa berpikir demikian, karena memang gue sangat menikmati kesempatan mengobrol dengan senior citizens atau orang-orang berusia lanjut. Mungkin aja ini ada hubungannya dengan fakta bahwa gue dibesarkan sama opung boru (nenek) selepas nyokap meninggal, sehingga berkomunikasi dengan orang tua merupakan satu hal yang natural buat gue. 

Sebulan ini gue mengalami masalah kesehatan yang membuat gue harus sering bolak balik ke rumah sakit dan bahkan beberapa kali diopname. Soal ini gue akan tulis lebih mendetail di lain kesempatan, tapi tulisan kali ini khusus menceritakan tentang dua 'teman baru' gue yang namanya gue sebut di judul entry ini. Gue kenal mereka waktu kami sama-sama terbaring lemah di satu rumah sakit katolik di kota Duisburg. 

Renata adalah penduduk pertama di kamar stasiun nomer 25 itu. Dia tidur di sebelah jendela. Umurnya 81 tahun dan dulunya, dia dan almarhum suaminya Hans punya restoran cepat saji yang cukup terkenal di Duisburg, namanya Hähnchen Hans (Hähnchen dalam bahasa indonesia artinya ayam or chicken in english). Dia seneng cerita (BANGET), terkadang mengulang-ulang cerita yang sama di kesempatan berbeda, tapi gue tetap menikmati setiap ceritanya. Favorit gue adalah ketika dia sebut nama suaminya, dia selalu bilang 'Mein Hans' yang artinya Hans-ku, dan gue bisa lihat dari seberang ruangan bahwa matanya berbinar waktu bilang itu. Usaha restoran mereka terpaksa harus ditutup 10 tahun yang lalu karena baik Hans maupun Renata udah terlalu uzur untuk mengelolanya, dan anak mereka satu-satunya Petra memilih untuk berkarir sebagai konsultan pajak. Hans sendiri berpulang ke pangkuan Sang Pencipta bulan November 2018 silam. Gue bisa lihat betapa Renata masih heartbroken ditinggal Hans-nya, ditambah lagi dengan kondisi kesehatannya yang memburuk saat ini, but I'm so impressed that she could still manage to crack some jokes and share a laugh or two with me in that gloomy hospital room. Sekali gue datang ke dekat tempat tidurnya waktu gue udah cukup kuat selepas operasi, dia kesusahan buat buka toples herring saladnya dan gue datang buat membantu. Dengan mata berbinar-binar dia berterima kasih ke gue, seakan akan gue baru aja ngasih dia duit satu juta euro.

Ursula datang di malam kedua gue di rumah sakit, diantar putri semata wayangnya Barbara. Dia dibawa ke emergency room malam-malam karena terpeleset di apartment tempat dia tinggal sendirian, selepas kepergian suaminya lebih dari 20 tahun lalu. Ursula berusia 5 tahun lebih tua dari Renata, namun secara physically terlihat lebih sehat. Waktu dia tiba, gue lagi setengah tidur karena pengaruh pain killer yang bikin drowsy. Gue denger Renata ngomong dengan nada setengah serius setengah bercanda "You could not be any luckier to end up in this room, because we are the best neighbours you could ever get in this hospital. That young lady who's sleeping next to you, well she's an angel." (the original dialog was of course in German) Gue yang mendengar itupun kupingnya jadi besar dan perasaan GR membuncah di dada. Tiba-tiba suster datang membangunkan gue untuk periksa tekanan darah, yang membuat gue akhirnya bisa lihat dan berkenalan dengan tetangga baru gue ini. Ursula punya tampilan yang hampir mirip dengan Renata, mereka sama-sama punya rambut putih yang dipotong pendek model bob dan mata yang indah berwarna biru atau abu-abu. Setelah membantu ibunya berganti baju tidur, Barbara pamit pulang ke kami bertiga. Ursula yang nggak kalah chatty-nya sama Renata itupun ngajakin kami ngobrol ngalor ngidul mulai dari tentang Thysen Krupp (perusahaan baja terkenal berbasis di Duisburg di mana ayah mereka berdua sama-sama pernah bekerja), André Rieu (pemain biola dari Belanda yang ternyata gue dan Ursula sama-sama idolain), sampai ke Luciano Pavarotti. Seperti kebanyakan lansia pada umumnya mereka punya masalah sulit tidur atau insomnia. Gue ingat banget dulu karena almarhumah opung juga punya masalah yang sama. Gue yang karena pengaruh obat jadi gampang ngantuk, kadang ketiduran, tapi waktu gue bangun lagi, dua golden girls itu masih aja cerita seru tiada henti. Gue ingat Ursula bilang gini "Di rumah kalau gue susah tidur, biasanya gue baca-baca surat cinta nyokap dan bokap gue yang masih tersimpan rapi. Kadang gue juga nulis puisi atau sejenis diary, gue tulis semua yang gue ingat di masa lalu, pertama kenal suami, menikah, punya anak. Kerjaan gue. Menulis seperti terapi buat otak gue, dan gue berharap suatu saat ketika ingatan gue makin lemah, gue bisa baca-baca lagi tulisan itu. Sayangnya sudah beberapa lama gue susah buat pegang pensil karena arthritis." 

Sejujurnya gue amat mengutuki keterbatasan bahasa Jerman gue karena mungkin ada beberapa hal yang nggak 100 persen gue tangkep dari cerita mereka. Gue bersyukur banget penyakit gue bisa mempertemukan gue sama dua wanita hebat yang cerita hidupnya menginspirasi gue dalam banyak hal ini. Gue belajar tentang cinta ibu yang tanpa syarat waktu Renata begitu bahagia dan bangganya cerita tentang Petra, putri semata wayangnya yang selama gue 3 malam diopname nggak sekalipun gue lihat datang jenguk ibunya. Gue belajar kemandirian, ketidakbergantungan pada orang lain sekalipun itu keluarga lo sendiri. Gue belajar kesetiaan pada pasangan sampai akhir hayat. Siang sehari sebelum gue discharged dari RS, Renata dipindahkan ke institusi lain. Ursula nangis, sedangkan gue yang entah karena nggak mau kelihatan cengeng atau karena air mata gue udah kering habis nangis di hari-hari yang lalu, cuma berkaca-kaca sambil megangin tangan Ursula. Gue nggak paham gimana caranya kita bisa bonding dalam waktu semalam doang. Waktu sorenya Ursula juga dijemput Barbara, dia nggak cuma mau disalam sama gue, tapi dia tarik gue ke pelukannya. Ada rasa haru yang nggak bisa gue jelaskan, rasa rindu gue ke Opung yang membesarkan gue, rasa sayang ke wanita hebat yang gue peluk ini. Dia juga nggak lupa minta alamat gue di Duisburg, dengan alasan ingin berkirim surat, dan gue juga melakukan hal serupa. Satu hal terakhir yang gue ingat mereka bilang, bahwa di jaman mereka masih kecil, adalah hal yang lumrah untuk kakek dan nenek tinggal bersama di rumah bersama mereka dan orangtua mereka. "Tapi kalau jaman sekarang, anak-anak berlomba-lomba ngirim orangtua mereka ke Altesheim (panti jompo)" kata Ursula. Kedua wanita ini merupakan golongan orang tua yang memilih untuk tinggal sendiri di apartement mereka, walaupun pilihan ini bukan tanpa resiko. Ursula bisa masuk rumah sakit karena jatuh di apartementnya sendiri. Mungkin para warga senior ini memang memiliki sense of independency yang sangat tinggi, tapi menurut gue nggak ada salahnya buat anak dan cucu mereka untuk lebih meluangkan waktu mengunjungi mereka, sekalipun hanya untuk sekedar berbagi cerita.

Standard English vs. Dialects (Summarising HW)

The article titled “The importance of proper and improper English”, Johnson (November 2nd 2017) explains some criticisms of Tom Sherrington’s blog post titled “Let’s talk properly”, which is addressed to teachers, asking them to encourage students to communicate in standard English. The critics come from Rob Dummond, a linguist at Manchester Metropolitan University and Oliver Kamm, a journalist at the Times. They criticise the use of the word “properly” along with related words like “correct”, suggesting that such fierce argument sums up the way academic linguists (especially sociolinguists) see standard English. While teachers see a sentence such as “I aint done nothing” as simply wrong, linguists find dialects as rule-governed, coherent and fully expressive; which only sound wrong to those who don’t understand the rule. There might be political aspect surrounding the debate. Dialects are usually linked to poor, non-white and less educated society, which leads to false discourse that their language must be one of the things that holds these people back. Both sides agree that standard English is indeed necessary, and while it’s fine to speak it in different accents, grammatical correctness is absolutely needed. But children who speak other than standard English at home, should not be discouraged about their home speech. After all, dialects are as valuable as the standard English, they give the speakers some sense of belonging and identities. Children should rather be taught the occasion, where and when they need to switch between language varieties. Teaching the ability to understand the difference, or even translate one variety of language to another is proven to be more effective than to prevent the students to speak in dialects at all. (277 words)



The original article can be found here:

Sampai Jadi Debu





Belakangan ini gue lagi seneng dengerin satu lagunya 'Banda Neira' yang judulnya 'Sampai Jadi Debu'. Liriknya pendek dan simple begini:

Badai Tuan (Puan) telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra?
Tiap pagi menjelang, kau di sampingku
Ku aman ada bersama mu Selamanya... Sampai kita tua Sampai jadi debu Ku di liang yang satu, ku di sebelahmu

Lagu ini dengan segala komponen di dalamnya menjadi satu kesatuan yang ciamik di telinga gue. Intro dengan dentingan pianonya yang indah, suaranya Rara Sekar (yang gue barusan find out ternyata mbak kandungnya Isyana Sarasvati) yang soothing, liriknya yang nggak banyak kata-kata tapi sarat makna. I shamelessly admit that I sobbed like a crybaby when I first listened to the song properly (and it was in a train full of people HAHAHA). Gue bilang properly, karena sebenernya gue udah pernah denger lagu ini sebelumnya, tapi memang hanya sepintas dan nggak bener-bener kayak mencerna kata-katanya gitu. 
Pas gue dengerin lagu ini di kereta itu, pikiran gue melayang ke Siborong-borong, kampung halaman gue di Sumatera sana, tempat di mana jasad kakek dan nenek gue dimakamkan berdampingan. Jarak waktu kepergian mereka memang lumayan jauh (kakek di tahun 1981 sedangkan nenek menyusul di tahun 2016 silam) namun arrangement ini sudah dibuat jauh sebelum mereka pergi meninggalkan dunia fana ini. Jadi ceritanya, orangtua dari kakek gue punya satu kavling tanah yang diperuntukkan khusus untuk tempat peristirahatan abadi mereka dengan keturunan-keturunannya. Hal seperti ini memang common dalam tradisi batak, dan juga mungkin etnis lainnya di Indonesia. Di tempat itu, pasangan suami dan istri dimakamkan bersebelahan satu dengan yang lainnya. 
To me, my Grandma was a living testimony that being buried next to your significant other can be something to look forward to :D Gue inget banget, selain udah menyediakan kebaya yang mau dia pakai di peti matinya, nenek gue juga selalu bilang bahwa nanti dia akan 'tidur' bersebelahan dengan kekasih jiwanya, kakek gue. 
Bagi gue sih, dikubur sebelahan atau tindih-tindihan atau nggak, gue percaya gue akan bersatu sama orang-orang yang gue cintai di dunia sana nanti. Mungkin bukan dengan bentuk yang seperti sekarang, dan mungkin bukan dengan cara-cara yang bisa gue bayangkan, tapi gue percaya gue akan ketemu mereka lagi nanti, terlepas gue dikubur dekat mereka, atau dikremasi (which I highly consider, karena harga tanah kuburan kan mahal). Tapi gue dapat memahami keinginan banyak orang untuk dimakamkan dekat dengan orang yang mereka cintai, kayak yang di lagu Banda Neira ini. Waktu kita begitu nyaman dan amannya berada di dekat seseorang, bukankah yang kita inginkan adalah terus berada di sebelahnya? Bahkan mungkin kematianpun nggak cukup untuk menjadi penghalang untuk kita ingin terus berada bersama-sama dengan mereka.

Upaya Sia Sia Mendefinisikan Cinta

Kemarin saya berbincang dengan seorang teman yang usianya terpaut lumayan jauh di atas saya. Konon katanya, semakin banyak umur seseorang, semakin banyak pula pengalamannya. Jadi saya bertanya dong, “Kak, kakak lebih memilih mencintai atau dicintai?” Pertanyaan klise memang. Dan sayapun berekspektasi untuk mendapatkan jawaban yang tidak kalah klisenya; seperti yang sering  banyak perempuan bilang, “mending dicintai daripada mencintai.” Katanya, belajar mencintai orang itu lebih mudah, daripada mencoba membuat orang yang nggak cinta jadi cinta sama kita. Jadi saya pikir, jawaban si kakakpun pasti akan menyerupai format itu. Nggak tahunya dia jawab begini, “Saya memilih dicintai, karena kalau sampai harus berpisah, hati saya nggak akan sesakit kalau saya mencintai orang tersebut.” Hmm, menarik, pikir saya. Lalu saya tanya lagi, “Pentingkah ada cinta di dalam pernikahan?” Lalu jawabnya “Tidak. Yang terpenting itu komitmen. Pasangan yang bertahun-tahun menikah, sudah tidak ada cinta lagi. Yang ada hanya perasaan nyaman, saling membutuhkan, dan komitmen.” “Lalu apakah pasangan kakek nenek yang jalan sambil gandengan tangan itu bukan karena cinta?” saya tanya lagi. “Itu tadi yang saya bilang rasa nyaman,” jawabnya.


Sekarang saya jadi berpikir, sebenarnya apa sih cinta itu? Katanya di dalam bahasa Yunani, ada 4 kata yang dapat diartikan ke dalam bahasa inggris sebagai cinta, atau “love” dalam bahasa inggris, walau memiliki makna yang berbeda-beda.  Ada philiaerosstorge dan agape. Saya nggak kepengen membahas terms of love in greek ini, saya yakin kalian semua udah tahu lah. Ini saya hanya sedang mencoba mengerti, tentang apa sih sesungguhnya cinta itu.



Detik ini ada begitu banyak perasaan yang saya rasakan, terhadap berbagai orang yang berbeda, yang mungkin bisa didefiniskan sebagai cinta. Tapi karena sayapun nggak punya definisi yang definite soal apa cinta itu, saya jadi kurang yakin apakah perasaan itu memang cinta apa bukan. Saya juga nggak tahu, apa sih tanda cinta itu? Apa berkirim pesan tiap hari untuk saling bertanya kabar? Mengingatkan jangan lupa makan, mandi, buang air, bernafas? Berkorban waktu, tenaga, perasaan? Mendoakan dari jauh? Ciuman yang membuat lutut lemas? Pelukan yang hangat dan lama? Bagi tiap orang, mungkin jawabannya akan berbeda-beda. Ada yang mungkin ngamuk-ngamuk kalau pasangannya lupa ngingetin dia buat makan, dianggapnya sudah tidak cinta. Ada yang mungkin berpikir, cinta bukan cuma sekedar hal remeh temeh kayak begitu. Saya pikir sih nggak ada yang salah dan nggak ada yang absolutely benar. Bagi saya, cinta itu bukan untuk didefinisikan. Biarkanlah dia dengan segala keabstrakannya. Menurut saya, ketika saya ingin orang-orang terdekat saya bahagia, itu sekedar karena mereka adalah bagian dari diri saya, dan ketika mereka bahagia, sayapun demikian. Apakah lantas itu definisi cinta? Ya tergantung tanyanya ke siapa. Atau ketika saya melihat dia yang tidur di lantai supaya saya bisa tidur di kasur, apakah lantas saya langsung GR dan berpikir dia “berkorban” karena cinta sama saya? Ya nggak juga. Bisa aja itu cuma act of courtesy saja, ndak lebih. Atau cintakah itu kalau saat ini saya berharap bisa mendengar dengkurannya yang mungkin mengisyaratkan kalau tidurnya nyenyak? Nggak juga. Pada dasarnya, saya nggak mau lagi menebak-nebak dan mendefinisikan perasaan saya, apalagi perasaan orang. Saya sudah capek berada dalam posisi di mana saya mencoba memahami apa perasaan orang terhadap saya, dan perasaan saya terhadap orang tersebut. Untuk saat ini, saya memilih untuk tidak melabeli perasaan apapun itu yang saya rasakan terhadap seseorang, atau sesuatu. Saya hanya ingin meresapi dan menikmatinya, selagi saya masih bisa.

Hari Ini

Hari ini adalah tentang sebuah hujan di penghujung bulan oktober,
dengan angin kencangnya yang merusak payung-payung murahan yang kemudian berakhir di tong sampah stasiun.

Hari ini adalah tentang belajar huruf-huruf inggris kuno yang kemudian mendapat pengaruh dari bahasa  prancis, latin dan nordic di abad pertengahan. Sulit, namun fascinating.

Hari ini adalah tentang gym yang penuh dengan orang-orang berolah raga dengan tubuh bau keringat. Entah yang ingin menurunkan berat badan atau ingin menambah massa otot. Walaupun berbeda-beda, namun masing-masing pasti memiliki tujuan.

Hari ini adalah tentang seorang nenek di kereta yang bercerita kepada seorang kakek, tentang ketidaksabarannya untuk segera tiba di rumah dan menelepon putranya yang sedang berada di Catalonia.

Hari ini adalah tentang sebuah semangat baru untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

13.03.18

"Aku mengasihimu sekalipun kamu bukan siapa-siapa."




Hari ini kembali aku cek hasil ujianku di website universitas. Sejujurnya sedari kemarin aku sudah mempersiapkan diriku untuk meghadapi segala yang terburuk, dan meninggalkan semua ekspektasi-ekspektasi utopisch yang kumiliki selama ini. Aku mengaku pasrah, tapi aku nggak memperhitungkan sama sekali bahwa hasilnya sudah keluar hari ini.

Berbeda dari hari-hari sebelumnya, di sebelah nama mata kuliah ada tertulis informasi baru; "endgültig nicht bestanden." Aku coba melihat kembali dengan jelas, namun tulisan di layar komputerku tidak berubah. Aku yang saat itu sedang menerima telepon dari seorang sahabat tidak lagi mendengar apa yang dia ucapkan. Dengan dalih ingin bersiap-siap berangkat ke kerjaan, aku sudahi pembicaraan kami di telepon.

Aku tertegun kembali membaca tulisan di layar laptopku. Setelah beberapa menit memproses semuanya, tanganku mengambil handphone dan segera menelpon Standy lewat WhatsApp.
"Nggak lulus," ucapku singkat dengan suara terpelan yang pernah aku gunakan saat berbicara dengannya. Tanpa jeda untuk menghela nafas dia menjawab, "ya sudah, mulai hari ini kita fokus mikirin rencana ke depannya ya." Aku mengiyakan. Dia bicara lagi tentang makan, apakah aku mau makan di luar dan ngobrol, apa aku sudah makan. Aku sudah nggak betul-betul dengerin lagi. Sambungan telepon terputus setelah sepakat untuk bertemu nanti, sehabis aku bekerja.

Kemudian teringat olehku ucapan Standy tempo hari. Soal aku yang harus berterus terang tentang kondisi perkuliahanku kepada keluargaku. "Minimal Bapak dan Maria, mereka itu orang terdekatmu." Aku tahu dia benar, tapi aku sama sekali nggak punya nyali bercerita tentang kegagalan. Cerita kegagalan bagiku bukan suatu hal yang bisa dengan gamblang dibagikan di depan orang lain, sekalipun orang terdekatku sendiri. Namun aku merasa, saat ini adalah waktu yang tepat. Dengan HP masih di tanganku, aku mencoba menghubungi Maria. Setelah beberapa kali dering, teleponku diangkatnya. Terdengar suara bising di seberang sana.

"Hallo, kenapa?" tanyanya dengan kecuekan seperti biasa. Walau sering kesal, aku nggak bisa nyalahin dia 100 persen. Memang akulah yang sering menelpon dia untuk sekedar menggoda atau bicara hal remeh temeh lainnya. Tapi hari ini berbeda.
"Aku nggak lulus ujian."
"Heh?" ucapnya. Kali ini dengan sedikit perhatian.
"Ya, nggak lulus. Percobaan ketiga. Terancam DO."
Aku mendengar suara terperanjat di ujung sana. Adikku bicara, "Kak, serius? Kaaaak..."
Aku dengar dia permisi untuk meninggalkan ruangan. Sesaat tidak kedengaran suara apapun di bagian sana. Rasanya kayak lama sekali. Kemudian aku kembali mendengar suaranya. Ya ampun kak. kok bisa kak, terus kakak sekarang mau gimana. Aku bingung menjawab satu persatu pertanyaannya. Aku berharap timbul pernyataan di antara pertanyaan-pertanyaan itu, sehingga aku tidak perlu menjawab. Namun satu hal di luar dugaanku, tidak ada sekalipun muncul kalimat yang menyalahkanku. Rasa masih nggak percaya, penasaran, terkejut, hanya itu yang terlontar darinya. Sempat dia malah menyesali kenyataan bahwa dia tidak cukup aware dengan permasalahan yang kakaknya hadapi di sini. Di satu sisi ada rasa sedikit lega dalam diriku, yang beberapa hari ini sudah terbiasa dengan "accusation" yang sebenernya mostly datang dari diriku sendiri. Tapi dadaku diliputi rasa haru ketika mendengar dia begitu mencoba memberikan suntikan kekuatan kepadaku lewat kata-katanya yang mencoba support aku untuk mau bangkit lagi. Aku ingat dia berkata bahwa mulai sekarang apapun keputusan yang aku buat harus memang karena itu dari diriku sendiri, bukan karena untuk menyenangkan bapak, dia, keluarga, tetangga, kakek nenek moyang. Bukan hanya untuk memuaskan rasa gengsiku saja. Bukan karena dorongan kekhawatiranku akan hari esok; mau jadi apa aku kelak. Dia bahkan mengatakan bahwa dia menyayangiku sekalipun nanti aku nggak jadi apa-apa. Mungkin ketika mendengar kalimat yang terakhir barusan, the classic Asrida bakal ngamuk-ngamuk dan bilang, "maksud lu? Jadi lu yakin suatu saat gw bakal ga jadi apa-apa dan lu bakal jadi lebih tinggi dari gw?" Tapi saat aku denger ucapannya, air mataku jatuh luruh karena aku menyadari, bahwa dia bicara itu bukan karena berpikir bahwa masa depanku akan berakhir suram, tapi malah sebagai bagian dari support system dia yang menyatakan bahwa apapun langkah yang nanti aku ambil dari sini, dia akan mendukung aku selalu. 

Saat itulah aku menyadari betapa bodohnya aku kalau berpikir aku sendirian dalam menghadapi semua ini. Aku memiliki support system yang lebih dari cukup dalam menghadapi dunia dan tantangan-tantangannya. Aku punya adik satu-satunya yang mendukung aku dan tetap percaya kalau aku bisa. Aku punya keluarga yang sekalipun mungkin nggak aware sama permasalahanku, namun tetap membawaku dalam doa-doa mereka. Aku punya pacar yang walaupun galak tapi mengharapkan aku memiliki masa depan yang terbaik. Aku punya teman yang bisa diajak tukar pikiran dan turut mendoakan aku. Dan di atas itu semua, aku punya Tuhan yang begitu besar, yang menyediakan rancangan terbaiknya yang spesial untukku. Maka dari itu aku ingin mulai bangkit mulai dari sekarang untuk menata kehidupanku, dengan bantuan my super support system.